Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Persoalan Mutu Pendidikan

Zulfikri Anas
Nenek ingin aku memperoleh pendidikan, karenanya ia melarangku sekolah”
(Margaret mead, Antropolog, dalam Escobar DKK: 1994).

 “Abigail mendapatkan banyak sekali lembar kerja di kelas, juga pekerjaan rumah. Ia belajar untuk mendapatkan nilai bagus. Sekolahnya bangga dengan standar nilai yang tinggi. Murid-murid berprestasi dapat dikenal dari daftar siswa terbaik, pemberian piagam penghargaan, dan dipasangnya stiker penghargaan di mobil mereka. Guru Abigail adalah seorang pembicara kharismatik yang sangat menguasai kelasnya. Para siswa  mengangkat tangan dengan sabar menunggu giliran bicara. Sang guru menyiapkan rencana pembelajaran dengan mendetail jauh hari sebelumnya, menggunakan buku teks terbaru dan memberikan kuis secara berkala untuk memastikan bahwa siswanya berada di jalur yang benar. “Apa yang salah dengan gambaran ini?. SEMUANYA!” (Kohn, 2009:1).

Mengapa Margaret Mead dan Alfie Kohn berkesimpulan demikian?. Bila kita simak gambaran ini, terlihat sekali bahwa siswa dalam posisi seperti “robot”, jadi obyek dan sasaran ambisi orang tua dan guru, dan semua orang. Ambisi orang tua telah “merampas” masa depan anaknya sendiri. Adakah ini terjadi pada kita?  Alfie Kohn seorang peneliti di bidang pendidikan di Amerika menyimpulkan, banyak yang belum menyadari bahwa sekolah-sekolah terbaik yang selama ini diburu banyak orang ternyata itu pilihan terburuk bagi keberlangsungan pendidikan jangka panjang anak.

Banyak cerita tentang anak-anak hebat waktu sekolah, namun gagal dalam kehidupan. Ternyata ia hanya mampu menjawab soal-soal ujian dengan baik, namun tidak mampu menyelesaikan persoalan dalam kehidupan nyata. Di Malaysia ada cerita tentang Sufiah Yusof, lahir di Inggris dalam keluarga jenius, ayah dan ibunya jenius, dan kuliah di Oxford dalam usia yang sangat muda. Semasa sekolah selalu juara, hari-demi hari dilalui dengan belajar dan belajar. Namun apa daya, semua orang kaget begitu memasuki usia remaja, ia tenggelam dalam kehidupan malam yang tang menentu, hobi barunya berpose tanpa busana di berbagai media.

“As I grew older, I began to clash with my father. He was violent at times. He pushed me so far academically, I become more confident for any girl my age. I grew up to quikcly. Oxford was a amazing place but I was too young. By the time I was 15, I wanted to be in control my life. I fought back” (DU Faizah, 2009:26).

Kisah serupa juga dialami oleh Edith, di usia 5 tahun ia sudah mampu menuntaskan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 6 tahun ia mampu membaca enam buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun Edith masuk Universitas, dan ketika usia 15 tahun ia pun menjadi guru  matematika di Michigan State University.  Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak “jenius”  karena terkait dengan kapasitas otak yang memang sangat tak terhingga.  Namun, kabar tentang Edith selanjutnya tidak terdengar lagi” (DU Faizah, 2009:23).

Siswa merasa guru sering menzholimi perasaan mereka. Misalnya guru yang cenderung mengajar text book. Buku seolah-olah menjadi kitab suci yang tidak bisa diubah dan dikritisi. Siswa harus mengemukakan pendapatnya sesuai dengan buku. Apapun itu, buku menjadi sumber acuan yang pertama dan utama. Ketika siswa mencoba untuk mencari referensi pada sumber lain, guru malah menjatuhkan mental siswanya dengan mencemoohkan, menyalahkan siswa (Afdhal, 2014) . 

Beberapa pengalaman pahit siswa di sekolah (Pengalaman Calon Pengajar Muda, Indonesia Mengajar):

Ada guru yang mengajar dengan kaku, tidak bisa mengakui kalau muridnya yang benar dan dia sudah salah memaksakan apa yang dipahaminya kepada muridnya. Suatu kali ada soal mana yang lebih berat 5 kg besi dengan 5 kg kapas, guru tersebut memaksakan jawabanya 5 kg besi dan tidak menerima jawaban muridnya, yaitu sama berat.
I used to hate school hingga saya SMA. Baru pada saat kuliah saya belajar dengan gigih karena saya merasa untuk pertamakalinya saya memiliki kebebasan belajar sesuai dengan minat tulus saya.
Ketika saya sekolah perhatian hanya terpaku pada pelajaran-pelajaran yang dianggap penting untuk kelulusan sehingga siswa tidak diajak berkembang sesuai dengan minat, bakat, dan potensi yang dimilikinya.
Pengalamannya ketika bapak/ibu guru memberikan nilai yang baik kepada siswanya hanya karena ikut les yang dipunyai  oleh guru tersebut.
Pembelajaran yang membosankan karena siswa disusruh mencatat yang didiktekan oleh guru, dan kebanyakan yang aktif hanya guru dan beberapa murid saja. Guru kurang bersemangat untuk menggali potensi murid-murid yang lain. Dan untuk penilaiannyapun sangat str. Kurangnya motivasi dari guru juga membuat murid-murid tidak terlalu bersemangat belajar, cenderung semaunya sendiri
Siswa jadi kurang kreatif, takut bermimpi dan berimajinasi akhirnya takut bercita-cita.
Ketika saya tidak bisa melakukan penghitungan kemudian dihukum di depan kelas. Saya jadi merasa benci dengan guru yang bersangkutan dan mata pelajaran tersebut.

Kurikulum diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mempertautkan berbagai kesenjangan juga tidak luput dari berbagai persoalan. Ketika kita melontarkan pertanyaan kepada peserta di berbagai forum diskusi, seminar atau diklat kurikulum, “Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar kata “KURIKULUM”?.  Berikut beberapa jawabannya.  “Kurikulum membuat otak eror, membingungkan, memusingkan, memberatkan, dan membebani, ribet, dan selalu berubah-ubah”.  Jawaban itu tidak hanya muncul dari guru, pengawas, dan praktisi saja, orang tua dan bahkan siswa juga merasakan hal yang sama.

Apa yang sesungguhnya terjadi?. Sebagai ilmu, keberadaan kurikulum sama dengan ilmu-ilmu lain, yaitu menjadi alat ampuh untuk membantu manusia mewujudkan cita-cita dan membuat mimpi menjadi kenyataan. Oleh karena itu, dengan adanya kurikulum, sesuatu yang tadinya mustahil bisa menjadi nyata. Ilmu aerodinamika membantu manusia menemukan alat untuk menerbangkan pesawat yang dulunya mungin mustahil. Sebuah benda yang beratnya puluhan ratusan atau ratusan ton bisa terbang dengan lincah di udara. Sesuatu yang tadinya mungkin tidak masuk akal.

Demikian juga seharusnya kurikulum, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, kehadiran kurikulum seharusnya memudahkan, menyenangkan, menggairahkan, dan membuat sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Rasanya sulit diterima akal sehat, ketika semua bidang ilmu hadir menjadi “pahlawan” bagi kehidupan manusia, sementara kurikulum dirasakan sebaliknya. Dengan adanya kurikulum, guru merasa terbelenggu, orang tua dan siswa merasa terbebani, bahkan akhir-akhir ini, presidenpun merasa ‘galau” sehingga Beliau merasa perlu memanggil Mendikbud agar persoalan ini selesai. Ada apa?

“Kamu harus tahu bahwa tiada satupun yang lebih tinggi, atau lebih kuat, atau pun lebih baik, ataupun lebih berharga dalam kehidupan nanti dari pada kenangan indah.  Terutama kenangan indah pada masa kanak-kanak. Kamu mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka seluruh kehidupanya akan terselamatkan” (Destoyevsky’s Brothers Karamazov: DU Faizah:2009,28).

Post a Comment for "Persoalan Mutu Pendidikan"