Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Aku, Sastra dan Ayah


AKU SASTRA DAN AYAH

Hanya teralis besi yang bisa Nanda lihat dari kamarnya. Diselimuti kesunyian dan kesepian di dalam kamar seluas 3, 3 meter itu. Tak ada kebebasan, tak ada kesempatan untuk menatap indahnya dunia remaja. Dunia yang penuh tantangan, penuh hal baru yang seharusnya Nanda coba jelajahi. Melangkahkan kakinya menuju hiruk pikuk kehidupan remaja masa kini, baginya adalah sebuah ketidakmungkinan.


Bela Rosa Ananda, dengan panggilan akrab Nanda. Anak kedua dari tiga bersaudara, ayahnya seorang Polisi ibunya seorang ibu rumah tangga yang sangat mencintai dan menghormati suaminya. Sejak kecil Nanda tidak diberikan kebebasan layaknya anak-anak lainnya. Ia hanya menatap dari jendela kamarnya, menatap anak-anak kecil seusianya berlarian atau hanya bermain gobak sodor di lapangan lingkungan perumahan. Tak ada yang salah dengan Nanda, ia sehat, cantik dan tidak kekurangan satupun anggota tubuh, ia mengagumkan. Namun bagi ayah Nanda kehidupan diluar pintu rumahnya adalah bahaya besar.


Nanda menatap langit-langit kamarnya, dengan sentuhan warna pastel di dinding. Alunan musik sendu menemaninya dalam kesunyian. Ia menatap meja belajarnya. Menatap setiap deretan buku sastra yang tertata rapih serta lukisan-lukisan indah yang ia buat dengan tangannya sendiri. Nanda menyukai Seni dan Sastra, tapi tidak ayahnya.
Ia bangkit dari tempat tidurnya, menimbulkan suara berdecit dari kasur usangnya. Ia mengambil pena sembari membuka buku bertuliskan “the deepest part of me”.


hanya ada aku disini
berdua bersama bayang diriku sendiri
bagaimana bisa aku terbang
jika aku diberi sayap tapi kakiku dirantai besi


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Sosok yang tak asing lagi baginya. Yang selama 17 tahun ini mebesarkan, membiayai, menyanyangi sekaligus merantai kedua kakinya hingga saat ini. Semilir angin berhembus, membuat Nanda bergidik ngeri. Matanya tajam, tubuhnya kekar. Nanda hanya mampu menundukan kepala, menatap kedua kakinya berdiri mematung dihapannya.


“Kamu tidak akan pergi kemana-kemana apalagi diluar kota sana, hanya disini. Bersama ayah, kamu tidak boleh kemana-kemana. Pilih jurusan yang sudah ayah katakan kemarin malam.”

Suaranya memecah gendang telinga Nanda, mencabik perasaannya, pilu dan perih yang ia rasakan. Hanya itu yang ia dengar, tak ada kalimat lain yang ayahnya lontarkan selain itu. Dalam hati ia menjerit.

“Bukankah ayah telah berjanji, aku boleh memilih dimana aku ingin melanjutkankan pendidikanku setelah sekolah menengah atas? Bukankah selama ini aku selalu menuruti setiap perkataan ayah.”

Tapi tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mungil Nanda. Hanya desahan nafas yang terdengar. Hanya gemuruh di dada yang terdengar oleh dirinya sendiri. Kecewa. Tiga tahun yang lalu saat Nanda lulus sekolah menengah pertama, ayahnya meminta Nanda untuk bersekolah di tempat yang ia sarankan dan ayahnya berjanji akan membebaskan Nanda memilih dimana ia ingin melanjutkan pendidikannya setelah lulus sekolah menengah atas. Tapi janji tinggal janji. Bagi Nanda janji hanyalah bualan untuk menenangkan hatinya sesaat. Tak ada tindakan pasti dari setiap janji yang ia dengar.

Hujan turun begitu derasnya, seperti mengerti dengan kerusuhan yang terjadi di dalam hati Nanda. Baginya lulus sekolah menengah atas adalah hal paling ia nantikan. Hal yang selama ini selalu dibayangkan Nanda akan terjadi setelah ia lulus. Namun nyatanya kejadian itu terulang kembali. Ia harus mengubur impiannya lagi dan lagi. Ia tak pernah mencoba berbicara apa yang ia sukai, apa yang ingin ia lakukan. Ia bagaikan robot yang dikendalikan remote control ditangan ayahnya. Jika Nanda melakukan kesalahan, melakukan hal yang tidak dikehendaki ayahnya, ayahnya akan mencabut semua pembiayaan sekolah Nanda, adik, serta kakaknya juga ibunya. Nanda tak ingin itu terjadi. Keadilan memang tak berpihak padanya saat ini.

Butiran bening itu selalu membasahi kedua pipinya. Menyebabkan mata bulat indahnya, sembab. Ia memeluk dirinya sendiri, mencari-cari apa yang salah dengan dirinya. Menatap cermin, yang terlihat hanyalah wanita lemah, kusut dengan mata sembab.
Suara lain membuyarkan lamunannya. Ia menatap keluar jendela. Empat orang wanita dengan suara celotehan bak anak yang masih duduk di taman kanak-kanak membuat senyumnya mengembang. Mereka adalah salah satu keberuntungan, dan hadiah dari Tuhan untuknya. Obat untuk setiap kesedihannya. Dalam keadaan paling terpuruk sekalipun, bersama mereka ia bisa tertawa. Ia bergegas keluar kamarnya masih dengan mata sembabnya. Ia mebuka pintu rumahnya, mempersilahkan keempat wanita itu masuk sembari tersenyum bahagia. Tapi wajahnya berubah ketika melewati ayah dan ibunya yang sedang sibuk menatap layar persegi itu.

“Nanda, jadikan kita pergi ke Bandung besok?”
“Bandung? Selangkah dari rumah aja aku udah dicari.” Jawab Nanda sembari menatap cermin, mengucek-ngucek matanya yang terasa perih karena banyak menangis.
“Aku lanjut kuliah disini, ambil jurusan Teknik.” Lanjut Nanda singkat.
“Serius? Dari sastra ke teknik ga nyambung. Yakin? Kamu ga akan nyesel?.”
“Sejak dulu aku tak pernah memilih apa yang aku suka, hanya ayahku yang berhak mengatur hidupku. Berapa tahun sih kalian kenal aku?”
“Nanda, sekali-kali kamu kabur.”

Nanda adalah sosok yang berbeda ketika berada disekolah atau berkumpul bersama ke empat temannya. Ia bisa tertawa sangat keras. Ia bebas berteriak, bernyanyi, tertawa diluar sana, tapi tidak di dalam rumahnya sendiri. Baginya bermain 5 meter saja dari rumahnya itu adalah kesenangan yang tiada tara. Selama 17 tahun, selama ia sekolah, ia tidak pernah mengikuti setiap acara diluar jam sekolah walaupun itu adalah acara yang diadakan resmi oleh sekolahnya. Misalnya latihan berenang, mungkin pernah sekali saat ia duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Selain itu acara-acara besar seperti karya wisata, ia tak pernah ikut serta. Memang malang nasibnya. Ayahnya terlalu takut. Apa yang ayahnya lakukan adalah bentuk dari kasih sayang. Tapi itu bukan hal yang sepenuhnya benar. Melarang setiap kesenangan yang diinginkan seorang anak bukanlah bentuk kasih sayang namun sebuah penindasan.

Bagi ayahnya, pergaulan remaja diluar sana akan merusak anaknya. Akan mengambil anaknya dari hidupnya. Pergaulan itu akan membunuh anaknya secara perlahan. Merusak hatinya, merusak setiap sel-sel otaknya merenggut jiwa anaknya. Tapi tak semua pergaulan remaja seperti itu. Dibayangan ayahnya, yang memang selalu bergelut dalam kejahatan, ia merasa ia yang paling tau apa yang harus anaknya lakukan, apa yang harus ia pakai, harus makan apa, pergi kemana dan dengan siapa. Semua yang remaja-remaja itu lakukan diluar rumah adalah sebuah hal-hal tidak berguna dan merusak diri begitulah pandangan ayah Nanda. Karena ia terlalu sering melihat pergaulan seperti itu, remaja yang lebih condong terhadap hal-hal buruk seperti, wanita bertato, berkata kasar, minum alcohol, balapan liar dan semua hal yang berbau negatif.

***

“Aku tak pernah menolak setiap perintah ayah, aku selalu setuju dengan semua keputusan ayah terhadap hidupku. Kali ini berbeda, ini impianku. Ayah merenggutnya, memaksaku membuka pintu yang tak kusuka, apa yang akan terjadi jika aku terus mencoba masuk ke dalam hal yang tak aku sukai. Apa salahnya jika aku lebih suka menulis dan melukis? Apa salahnya jika aku tidak suka fisika, listrik, matematika serta atom atom itu?”

Di dalam dadanya, di dalam hatinya terdengar gemuruh yang memaksa otaknya untuk memberikan perintah kepada matanya untuk mengeluarkan kilauan bening itu lagi. Air matanya seakan-akan senang membasahi pipinya.

“Ayah selalu menghalangiku pergi keluar sana, atau hanya berkunjung kerumah teman yang hanya 5 meter dari rumah. Bahkan aku tidak pernah pergi nonton ke bioskop seperti teman-temanku. Ayah aku harus bagaimana?”

Sepi itu semakin menusuk jantungnya. Ingatan itu menyelinap lagi, ketika ayahnya mengusir keempat temannya dengan sengaja. Ketika ayahnya menuduh teman-temannya merusak pikirannya. Ketika ayahnya menyebabkan dirinya sendirian, ia boleh merebut impiannya. Tapi tidak teman-temannya yang selama ini menjadi pendorong dalam setiap langkahnya. Menjadi secercah cahaya dalam kegelapannya, menjadi penyebab tawa dari setiap kesedihannya.

Ia kunci pintu kamarnya.

Matahari sudah lelah berada di langit bulan menggantikan posisinya di langit sana. Langit menjadi gelap. Malam telah tiba. Namun pintu kamar Nanda tak kunjung terbuka. Jendela nya tertutup, tirainya menghalangi setiap celahnya. Cemas itu menyeruak di setiap sudut hati ayahnya, ibunya dan dua saudaranya. Jam menunjukan pukul 8 malam, tak tahan melihat pintu itu diam membisu. Ayahnya berusaha keras membuka pintu, mendobrak secara paksa.

Di dalam sana, hanya ada tubuh kaku Nanda dengan beberapa tablet obat berserakan disana. Mulutnya mengeluarkan buih-buih putih, berbusa. Ibunya menjerit pilu, melihat jasad anak perempuan tanpa jiwa di dalamnya. Ayahnya hanya tertunduk lemas tak berdaya melihat anaknya yang ia takutkan terluka diluar sana, ternyata terluka di kamarnya sendiri, dirumahnya sendiri. Tangan kiri Nanda memegang sepucuk surat bertuliskan “Untuk Ayah”.

‘Hai ayah..
Jika ayah membaca ini, itu berarti ayah telah melihat aku. Melihat jasadku. Bukankah ayah ingin aku selamanya bersama ayah? Disini bersama ayah? Iya aku disini ayah, aku mengakhirnya disini. Aku tau ayah sangat mencintaiku, aku tau apa yang ayah lakukan semata-mata karena tidak ingin kehilangan aku. Maafkan aku melakukan semua ini ayah, maafkan aku tak membicarakannya dengan ayah. Tapi, menurutku itu sia-sia, ayah tidak akan mendengarkanku. Ayah, aku merasa ayah tidak pernah mempercayaiku dalam menjalani hidup. Aku tau mana yang benar dan salah untukku. Dan hal yang aku lakukakan ini adalah kesalahan. Tapi selama ini aku selalu melakukan hal benar, aku hanya ingin ayah memberiku kebebasan. Ayah melarangku untuk hanya pergi ke acara sekolah ayah melarangku bermain bersama teman-temanku, bahkan ayah menghalangi impianku. Aku akan hidup dijamanku sendiri ayah, aku tidak hidup dijaman ayah. Biarkan aku memilih hal yang aku senangi, berikan aku kebebasan ayah. Diluar sana banyak anak yang melakukan hal-hal buruk, tapi aku tidak akan melakukan itu ayah. Aku tak kan merusak diriku apalagi merusak orang lain. Ayah maafkan aku. Aku pergi dengan cara seperti ini. Semoga sayapku bisa terbang sebagai mana mestinya, aku tak harus dirantai lagi ayah. Selamat tinggal.’

Ayahnya menjerit.

Keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Matanya sembab, air matanya mengalir. Meronta, berteriak dan menangis. Tangan itu mengguncangkan tubuhnya. Suara itu memulihkan kesadarannya. Ia membuka matanya.

“Ayah, ayah baik-baik saja?” suara itu terdengar familiar ditelinganya, wajah itu wajah yang ia rindukan, bayangan itu bayangan yang ia harapkan. Sosok itu sosok yang ia sayangi, Nanda.
“Nanda….” Ayahnya menangis.
“Apakah ayah mimpi buruk?”

Ayahnya hanya tersenyum bahagia, apa yang ia lihat tadi hanya mimpi yang mencabik-cabik hatinya. Hanya mimpi yang menyadarkannya. Ia menatap anak perempuannya dengan nanar, mencoba menjelaskan namun tak bisa yang keluar hanyalah.

“Maafkan ayah, Nanda.”

Post a Comment for "Aku, Sastra dan Ayah"