Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Manusia dan Pendidikan (Landasan Antropo-Filosofis Pendidikan)



MANUSIA DAN PENDIDIKAN (LANDASAN ANTROPO-FILOSOFIS PENDIDIKAN)

 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sejak dini pastinya sudah mengalami pendidikan, baik itu dari pengalaman maupun dari orang yang lebih dewasa. Manusia merupakan makhluk tanpa daya, yang sejak dini memerlukan bantuan dan intervensi dari lingkungannya. Adapun lingkungan yang pertama dan utama adalah keluarga. Orang tua mempunyai peran strategis dan juga menentukan pendidikan, karena peran orang tua menentukan karakter seorang anak yang akan menentukan sikap, tingkah laku, dll. Hubungan manusia dan pendidikan dan manusia sangat erat, karena mempunyai ikatan yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Pendidikan merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.

 

Manusia merupakan makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia adalah cenderung selalu ingin tahu segala sesuatu disekelilingnya

yang belum diketahui. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa menjadi bisa. Dari rasa ingin tahu itulah maka timbul ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri.

 

Setiap manusia membutuhkan pendidikan. Karena melalui pendidikan manusia bisa mengembangkan potensi diri dan mengarahkan kepribadian ke arah yang benar. Kemampuan seperti itulah yang tidak dimiliki makhluk tuhan lainnya. Manusia dapat tumbuh secara alami baik jasmani maupun rohani. Oleh sebab itu, pendidikan diperlukan supaya pertumbuhan manusia menuju jalan yang benar dan optimal.

 

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Hakikat Pendidikan?

2. Apa yang dimaksud dengan Landasan Antropo-Filosofis Pendidikan?

3. Apa yang dimaksud dengan Manusia sebagai Makhluk yang dapat Di didik?

4. Apa yang dimaksud dengan Pendidik sebagai Humanisasi?

 

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui tentang Hakikat Pendidikan

2. Untuk mengetahui tentang Landasan Antropo-Filosofis Pendidikan

3. Untuk mengetahui tentang Manusia sebagai Makhluk yang dapat Di didik

4. Untuk mengetahui tentang Pendidikan sebagai Humanisasi2

 

KAJIAN TEORI

A. Hakikat Manusia

1. Manusia adalah Makhluk Tuhan YME

Dalam perjalanan hidupnya manusia mempertanyakan tentang asal-usul alam semesta dan asal-usul keberadaan dirinya sendiri. Dua aliran filsafat yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu Evolusionisme dan Kreasionisme (J.D. Butler, 1968). Menurut Evolusionisme, manusia adalah hasil puncak dari mata rantai evolusi yang terjadi dialam semesta. Manusia sebagaimana halnya alam semesta ada dengan sendirinya berkembang dari alam itu sendiri, tanpa Penciptaa. Sebaliknya, filsafat Kreasionisme menyatakan bahwa asal usul mausia sebagaimana halnya alam semesta adalah ciptaan suatu Crative Cause atau Perconality, yaitu Tuhan YME.

 

Kita dapat mengakui kebenaran tentang adanya proses evolusi di alam semesta termasuk pada diri manusia, tetapi tentunya kita menolak pandangan yang menyatakan adanya manusia di alam semesta semata-mata sebagai hasil evolusi dari alam itu sendiri, tanpa Pencipta. Penolakan ini terutama didasarkan atas keimanan kita kepada Tuhan YME sebagai Maha Pencipta. Adapun secara filosofis penolakan tersebut antara lain didasarkan kepada empat argument berikut:

 

a. Argument ontologis, yakni semua manusia memiliki ide tentang Tuhan. Sementara itu, bahwa realitas (kenyataan) lebih sempurna daripada ide manusia. Sebab itu, Tuhan pasti ada dan realitasnya ada-Nya itu pasti lebih sempurna daripada ide manusia tentang Tuhan.

b. Argument kosmologis, yakni segala sesuatu yang ada semestinya mempunyai suatu sebab. Adanya alam semesta termasuk manusia adalah sebagai akibat. Di alam semesta terdapar rangkaian sebab-akibat, namun tentunya mesti ada sebab pertama yang tidak disebabkan orang yang lainnya. Sebab pertama adalah sumber bagi sebabsebab yang lainnya, tidak berada sebagai materi, melainkan sebagai “Pribadi” atau “Khalik”.

 

c. Argument Teleologis, yakni segala sesuatu memiliki tujuan (contoh; mata untuk melihat, kaki untuk berjalan). Sebab itu, segala sesuatu (realitas) tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan idciptakan oleh Pengatur tujuan tersebut, yakni Tuhan.

 

d. Argumen Moral, yakni manusia bermoral ia dapat membedakan perbuatan baik dan yang jahat. Ini menunjukan adanya dasar, sumber dan tujuan moraliras. Dasar, sumber dan tujuan moralitas itu adalah Tuhan.

 

2. Manusia sebagai Kesatuan Badani-Rohani

Menurut Julien de La Mettrie dan Feuerbach dua orang penganut Materialisme, bahwa esensi manusia semata-mata bersifat badani (tubuh/fisik). Sebab itu, segala hal yang bersifat kejiwaan/spiritual dipandang hanya sebagai resonasi dari berfungsinya badan/organ tubuh. Tubuhlah yang mempengaruhi jiwa. Pandangan hubungan antara badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai Epiphonemenalisme (J.D. Butler, 1968).

 

Sebaliknya, menurut Plato salah, seorang penganut idealisme bahwa esensi manusia bersifat kejiwaan/spiritual/rohaniah. Memang Plato tidak mengingkari adanya aspek badan, namun menurut dia jiwa mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada badan. Jiwa berperan sebagai pemimpin badan, jiwalah yang mempengaruhi badan, karena itu badan mempunyai ketergantungan kepada jiwa. Pandangan tentang hubungan badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai Spiritualisme )J.D. Butler, 1968).

 

Rene Descartes mengemukakan pandangan lain yang secara tegas bersifat dualistic. Menurut Descartes esensi manusia terdiri atas dua substansi, yaitu badan dan jiwa. Karena manusia terdiri atas dua substansi yang berbeda (badan dan jiwa), maka dalam gagasan filsafatnya Descartes berpendapat bahwa antara keduanya tidak terdapat hubunngan saling mempengaruhi (S.E. Frost Jr., 1957). Namun demikian dalam pemikiran commonsensenya Descartes mengemukakan bahwa setiap peristiwa kejiwaan selalu parallel dengan peristiwa badaniah, atau sebaliknya. Pandangan hubungan antara badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai Paralelisme (J.D. Butler, 1968).

 

Semua pandangan diatas dibantah oleh E.F. Schumacher (1980). MenurutSchumacher manusia adalah kesatuan dari yang bersifat badani dan rohani yang secara principal berbeda daripada benda, tumbuhan, hewan, maupun Tuhan. Sejalan dengan ini Abdurahman Sholih Abdullah (1991) menegaskan; “meski manusia merupakan perpaduan dua unsur yang berbeda, ruh dan badan, namun ia merupakan pribadi yang intergral”.

 

Sebagai kesatuan badani-rohani manusia hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kebutuhan insting, nafsu, serta mempunyai tujuan. Manusia mempunyai potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dan potensi untuk berbuat baik, namun disamping itu karena hawa nafsu ia pun memiliki potensi untuk berbuat jahat. Selain itu, manusia memiliki potensi untuk mampu berpikir (cipta), potensi berperasaan (rasa), potensi berkehendak (karsa), dan memiliki potensi untuk berkarya. Adapun dalam eksitensinya manusia berdimensi individualitas/personalitas, moralitas, keberbudayaan dan keberagamaan. Implikasi dari semua itu, manusia memiliki historitas, berinteraksi/berkomunikasi dan memiliki dinamika.

 

3. Individualitas/Personalitas

Manusia hanya sebagai suatu anggota di dalam lingkungannya, tetapi juga bersifat individual. Karena itu, ia adalah kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga setiap manusia bersifat unik. Perbedaan ini berkenaan dengan postur tubuh, kemampuan berpikirnya, minat, hobi, cita-cita dan sebagainya. Selain itu, arena setiap manusia memiliki subjektivitas (kedirinya sendiri), maka ia hakikatnya adalah pribadi, ia adalah subjek. Adapun sebagai pribadi/subjek, setiap manusia bebas mengambil Tindakan atas pilihan serta tanggung jawabnya sendiri (otonom) untuk menandaskan keberadaannya di dalam lingkungan. Dengan demikian dapat anda simpulkan bahwa manusia adalah individu/pribadi, artinya manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unnik, dan merupakan subjek otonom.

 

4. Sosialitas

Sekalipun setiap manusia adalan individual/personal, tetapi ia tidak hidup sendirian, tak mungkin hidup sendirian dan tidak mungkin hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan ia juga hidup dalam keterpautan dengan sesamanya. Dalam hidup bersama dengan sesamanya (bermasyarakat), setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu, mempunyai dunia dan tujuan hidupnya bersama dengan sesamanya. Melalui hidup dengan sesamanyalah manusia akan dapat mengukuhkan eksistensinya. Sehubungan dengan ini Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat (Ernst Cassirer, 1987).

 

Terdapat hubungan pengaruh timbal balik anatra individu dengan masyarakat.Ernest Cassirer menyatakan; “manusia takkan menemukan diri, manusia takkan menyadari individualitasnya kecuali melalui perantaraan pergaulan sosial. Adapun Theo Huijbers mengemukakan bahwa “dunia hidupku dipengaruhi oleh orang lain sedemikian rupa, sehingga demikian mendapat arti sebenarnya dari aku bersama orang lain itu” (Serjanto P. dan K. Bertens, 1983). Sebaliknya terdapat pula pengaruh dari individu terhadap masyarakatnya. Masyarakat terbentuk dari individu-inndividu, maju suatu masyarakat akan tertentukan oleh individu-individu yang membangunnya (Iqbal, 1978).

 

Karena setiap manusia adalah pribadi/individu dan karena terdapat hubungan pengaruh timbal balik antara individu dengan sesamanya, maka idealnya situasi hubungan antara individu dengan sesamanya itu tidak merupakan hubungan antara subjek dengan objek, melainkan subjek dengan subjek yang oleh Martin Buber disebut hubungan IThou/Aku-Engkau (Maurice S. Friedman, 1954). Selain itu, hendaknya terdapat keseimbangan antara individualitas dan sosialitas pada setiap manusia.

 

5. Kebudayaan

Kebudayaan adalah “keseluruhan sistem gagasan, Tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat, 1985). Ada tiga wujud kebudayaan, yaitu

a. Sebagai kompleks dari ide-ide, ilmu pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan sebagainya.

b. Sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.

c. Sebagai benda-beda hasil karya manusia.

Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudayaan, ia hidup berbudaya dan membudaya. Manusia menggunakan kebudayaan dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan atau untuk mencapai berbagai tujuannya. Disamping itu kebudayaan

menjadi milik manusia, menyatu dengan dirinya, ia hidup sesuai dengan kebudayaan. Karena itu, kebudayaan bukan sesuatu yang ada diluar manusia, melainkan meliputi perbuatan manusia itu sendiri. Bahkan manusia itu baru menjadi manusia karena dan bersama kebudayaannya. Didalam kebudayaan dan dengan kebudayaan itu manusia menemukan dan mewujudkan diri. Berkenan dengan ini Ernst Cassirer menegaskan “Manusia tidak menjadi manusia karena sebuah factor didalam dirinya, misalnya naluri atau akal budi, melainkan funsi kehidupannya, yaitu pekerjaan, kebudayaannya. Demikianlah kebudayaan termasuk hakikat manusia” (C.A. Van Peursen, 1988).

 

Uraian diatas menunjukan bahwa kebudayaan memiliki fungsi positif bagi kemungkinan ekstensi manusia, namun demikian perlu dipahami pula bahwa apabila manusia kurang bijaksana dalam mengembangkan dan menggunakannya, maka kebudayaan pun dapat menimbulkan kekuatan-kekuatan yang mengancam eksistensi manusia. Dalam perkembangannya yang begitu cepat, sejak abad yang lalu kebudayaan disinyakir telag menimbulkan krisis antropologis. Berkenaan dengan ini Martin Buber mengemukakan contoh keterhukuman manusia oleh karyanya sendiri. Manusia menciptakan mesin untuk melayani dirinya, tetapi akhirnya manusia menjadi pelayan mesin. Deimikian pula dalam bidang ekonomi, semula manusia berproduksi untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi kahirnya manusia tenggelam dan dikuasai produksi (Ronald Gregor Smith, 1959).

 

Kebudayaan tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Kodrat dinamika pada diri manusia mengimplikasikan adanya perubahan dan pembaruan kebudayaan. Hal ini tentu saja didukung oleh pengaruh kebudayaan masyarakat/bangsa lain terhadap kebudayaan masyarakat tertentu, serta dirangsang pula oleh tantangan yang dating dari lingkungannya.

 

Selain itu, mengingat adanya dampak positif dan negative dari kebudayaan terhadap manusia, masyarakat kadang-kadang terombang-ambing diantara dua relasi kecenderungan. Disatu pihak ada yang mau melestarikan bentuk-bentuk lama (konservatif), sedang yang lain terdorong untuk menciptakan hal-hal baru (inovatif). Ada pergolakan yang tak kunjung reda antara tradisi daninvasi. Hal ini meliputi semua kehidupan budaya (Ernst Cassirer, 1987).

 

6. Moralitas

Eksistensi manusia memiliki dimensi moralitas, karena manusia memiliki kata hati yang dapat membedakan antara baik dan jahat. Menurut Immanuel Kant (dalam Sumantri & MSM, 2015) manusia memiliki aspek kesusilaan atau berdimensi moralitas karena pada manusia terdapat rasio praktis yang memberikan perintah mutlak (categorical imperative). Misal: jika meminjam buku milik teman, rasio praktis atau kata hati manusia menyatakan bahwa buku itu wajib dikembalikan. Berdasarkan hal tersebut, dapatlah dipahami jika Henderson (1959) menyatakan: "Man is creature who makes moral distinctions. Only human beings question whether an act is morally right or wrong".

 

Sebagai subjek yang otonom (memiliki kebebasan) manusia selalu dihadapkan pada suatu alternatif tindakan/perbuatan yang harus dipilihnya. Adapun kebebasan untuk bertindak/berbuat itu selalu berhubungan dengan norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang juga harus dipilihnya. Karena manusia mempunyai kebebasan memilih untuk bertindak/berbuat, maka selalu ada penilaian moral atau tuntutan pertanggungjawaban atas setiap perbuatannya

 

7. Keberagamaan

“Keberagamaan merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilakunya” (Rasyidin dkk, 2017). Hal ini terdapat pada manusia manapun, baik dalam rentang waktu (dulu-sekarang-akan datang), maupun dalam rentang geografis dimana manusia berada. Keberagamaan menyiratkan adanya pengakuan dan pelaksanaan yang sungguh atas suatu agama. Adapun yang dimaksud dengan agama ialah "satu sistem credo (tata keimanan atau keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia; satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu; dan satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya yang sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud di atas (Endang, dalam Sumantri & MSM, 2015).

 

Manusia memiliki potensi untuk mampu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Di lain pihak, Tuhan pun telah menurunkan wahyu melalui Utusan-utusanNya, dan telah menggelar tanda-tanda di alam semesta untuk dipikirkan oleh manusia agar (sehingga) manusia beriman dan bertaqwa kepadaNya. Dalam keberagamaan ini manusia dapat merasakan hidupnya menjadi bermakna. Ia memperoleh kejelasan tentang asalusulnya, dasar hidupnya, tata cara hidupnya, dan menjadi jelas pula ke mana arah tujuan hidupnya.

 

8. Historisitas

Eksistensi manusia memiliki dimensi historisitas, artinya bahwa keberadaan manusia pada saat ini terpaut kepada masa lalunya, ia belum selesai mewujudkan dirinyamsebagai manusia, ia mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Historisitas memiliki fungsi dalam eksistensi manusia. Historisitas turut membangun eksistensi manusia. Sehubungan dengan ini Karl Jaspers menyatakan: “Manusia harus tahu siapa dia tadinya, untuk menjadi sadar kemungkinan menjadi apa dia nantinya. Masa lampaunya yang historis adalah faktor dasar yang tidak dapat dihindarkan bagi masa depannya” (Hasan, 1973). Manusia telah melampaui masa lalunya, adapun keberadaannya pada saat ini adalah sedang dalam perjalanan hidup, perkembangan dan pengembangan diri. Sejak kelahirannya, manusia memang adalah manusia, tetapi ia juga harus terus berjuang untuk hidup sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya. Karena itu, ia “belum selesai” menjadi manusia, “belum selesai” mengaktualisasikan diri demi mencapai tujuan hidupnya. Tujuan hidup manusia mencakup tiga dimensi, yaitu (1) dimensi ruang (di sini - di sana, dunia - akhirat); (2) dimensi waktu (masa sekarang - masa datang); (3) dimensi nilai (baik - tidak baik) sesuai dengan agama dan budaya yang diakuinya (M.I. Soelaeman, 1988). Adapun esensi tujuan hidup manusia tiada lain untuk mencapai keselamatan/kebahagiaan di dunia dan di akhirat, atau untuk mendapatkan ridlo Tuhan YME.

 

9. Komunikasi/Interaksi

Manusia berkomunikasi dan berinteraksi untuk mencapai tujuan hidupnya. Komunikasi/interaksi tersebut dilakukannya baik secara vertikal, yaitu dengan Tuhannya; secara horizontal yaitu dengan alam dan sesama manusia serta budayanya; dan bahkan dengan “dirinya sendiri”. Demikianlah interaksi/komunikasi tersebut bersifat multi dimensi (Rasyidin dkk, 2017).

 

10. Dinamika

N. Drijarkara S.J. (1986) menyatakan bahwa manusia mempunyai atau berupa dinamika (manusia sebagai dinamika), artinya manusia tidak pernah berhenti, selalu dalam keaktifan, baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. Dinamika mempunyai arah horizontal (ke arah sesama dan dunia) maupun arah transendental (ke arah Yang Mutlak). Adapun dinamika itu adalah untuk penyempurnaan diri baik dalam hubungannya dengan sesama, dunia dan Tuhan.

 

Manusia adalah subjek, sebab itu ia dapat mengontrol dinamikanya. Namun demikian karena ia adalah kesatuan jasmani-rohani (yang mana ia dibekali nafsu), sebagai insan sosial, dsb., maka dinamika itu tidak sepenuhnya selalu dapat dikuasainya. Terkadang muncul dorongan-dorongan negatif yang bertentangan dengan apa yang seharusnya, kadang muncul pengaruh negatif dari sesamanya yang tidak sesuai dengan kehendaknya, kadang muncul kesombongan yang tidak seharusnya diwujudkan, kadang individualitasnya terlalu dominan atas sosialitasnya, dsb. Sehubungan dengan itu, idealnya manusia harus secara sengaja dan secara prinsipal menguasai dirinya agar dinamikanya itu betul-betul sesuai dengan arah yang seharusnya.

 

11. Eksistensi Manusia adalah untuk Menjadi Manusia

Manusia memiliki dimensi dinamika, sebab itu eksistensi manusia bersifat dinamis. Bagi manusia bereksistensi berarti meng-ada-kan dirinya secara aktif. Bereksistensi berarti merencanakan, berbuat dan menjadi. Eksistensi manusia tiada lain adalah untuk menjadi manusia. Inilah tugas yang diembannya. Tegasnya ia harus menjadi manusia ideal (manusia yang diharapkan, dicita-citakan, atau menjadi manusia yang seharusnya). Idealitas (keharusan, cita-cita/harapan) ini bersumber dari Tuhan melalui ajaran agama yang diturunkanNya, bersumber dari sesama dan budayanya, bahkan dari diri manusia itu sendiri. Manusia ideal adalah manusia yang mampu mewujudkan berbagai potensinya secara optimal, sehingga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya; mampu memenuhi berbagai kebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa nafsunya; berkepribadian, bermasyarakat dan berbudaya.

 

B. Pengertian Landasan Antropo-Filosofis Pendidikan

Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata ”antrophos” berarti manusia, dan “logos” berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Antropologi secara garis besar dipecah menjadi 2 bagian yaitu antropologi fisik/biologi dan antropologi budaya. Tetapi dalam pecahan antropologi budaya, terpecah – pecah lagi menjadi banyak sehingga menjadi spesialisasi –

spesialisasi, termasuk antropologi pendidikan. Seperti halnya kajian antropologi pada umumnya antropologi pendidikan berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam rangka memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia khususnya dalam dunia pendidikan. Manfaat Landasan AntropoFilosofis Pendidikan:

 

1. Mengetahui pola serta perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara Universal maupun pola perilaku manusia pada tiap-tiap masyarakat (suku bangsa).

2. Dapat mengetahui kedudukan serta peran yang harus kita lakukan sesuai dengan harapan warga masyarakat dari kedudukan yang kita sandang.

3. Dengan mempelajari antropologi akan memperluas wawasan kita terhadap tata pergaulan umat manusia diseluruh dunia, khususnya Indonesia yang mempunyai kekhususankekhususan yang sesuai dengan karakteristik daerahnya sehingga menimbulkan toleransi yang tinggi.

4. Dapat mengetahui berbagai macam Problema dalam masyarakat serta memiliki kepekaan terhadap kondisi-kondisi dalam masyarakat baik yang menyenangkan serta mampu mengambil inisiatif terhadap pemecahan permasalahan yang muncul dalam lingkungan masyarakatnya.

 

C. Kemungkinan Pendidikan: Manusia sebagai Makhluk yang Dapat Dididik

Berikut ini prinsip-prinsip antropologi yang dikemukakan oleh Tatang Syaripudin (dalam Suyitno, 2008):

1. Prinsip Potensialitas

Pendidikan bertujuan agar seseorang menjadi manusia ideal. Sosok manusia ideal tersebut antara lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, bermoral/berakhlak mulia, cerdas, berperasaan, berkemauan, mampu berkarya, dst. Di

pihak lain manusia memiliki berbagai potensi, yaitu: potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, potensi untuk mampu berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa, dan potensi karya. Sebab itu, manusia akan dapat dididik karena ia memiliki potensi untuk menjadi manusia ideal.

 

2. Prinsip Dinamika.

Ditinjau dari sudut pendidik, pendidikan diupayakan dalam rangkanmembantu manusia (peserta didik) agar menjadi manusia ideal. Di pihak lain, manusia itu sendiri (peserta didik) memiliki dinamika untuk menjadi manusia ideal. Manusia selalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. Ia selalu menginginkan dan mengejar segala hal yang lebih dari apa yang telah ada atau yang telah dicapainya. Ia berupaya untuk mengaktualisasikan diri agar menjadi manusia ideal, baik dalam rangka interaksi/komunikasinya secara horisontal maupun vertikal. Karena itu dinamika manusia mengimplikasikan bahwa ia akan dapat didik.

 

3. Prinsip Individualitas

Praktek pendidikan merupakan upaya membantu manusia (peserta didik) yang antara lain diarahkan agar ia mampu menjadi dirinya sendiri. Dipihak lain, manusia (peserta didik) adalah individu yang memiliki ke-diri-sendirian (subyektivitas), bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab itu, individualitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.

 

4. Prinsip Sosialitas

Pendidikan berlangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar sesama manusia (pendidik dan peserta didik). Melalui pergaulan tersebut pengaruh pendidikan disampaikan pendidik dan diterima peserta dididik. Telah Anda pahami, hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, ia hidup bersama dengan sesamanya. Dalam kehidupan bersama dengan sesamanya ini akan terjadi huhungan pengaruh timbal balik di mana setiap individu akan menerima pengaruh dari individu yang lainnya. Sebab itu, sosialitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.

 

5. Prinsip Moralitas

Pendidikan bersifat normatif, artinya dilaksanakan berdasarkan sistem norma dan nilai tertentu. Di samping itu, pendidikan bertujuan agar manusia berakhlak mulia; agar manusia berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan normanorma yang bersumber dari agama, masyarakat dan budayanya. Di pihak lain, manusia berdimensi moralitas, manusia mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Sebab itu, dimensi moralitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik.

 

6. Prinsip Keberagamaan/religiusitas

Bagi umat beragama meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah diciptakan Tuhan Yang Maha Esa, ini berbeda denga aliran evolusionistik yang berargumen bahwa segala yang ada di dunia ini terjadi dengan sendirinya melalui proses panjang dengan hukum alam.

 

Realitas social, apakah mereka yang ada di pedalaman atau yang tinggal dipinggiran kota, atau di metropolitan, manusia selalu akan terikat denganyang dianggap menguasai alam atau lingkungannya, atau bahkan benda yang dianggap keramat karena dianggap ada hubungan antara dia dengan benda tersebut. Persoalan ini dapat dipahami dari sisi religiusitas seseorang, pada tataran mana seseorang memiliki keyakinan tersebut, apakah dasarnya logika, perasaan, intuisi, atau keyakinan dari hati sanubari. Permasalahannya adalah sampai sejauhmana peranan religi dapat menuntun manusia untuk mencapai kesempurnaan kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Agama yang diyakini seseorang, akan menjadi suatu paradigma berfikir dan berbuat yang selaras dengan hukum-hukum agama, dan ini menuntun dan mengembangkan seluruh proses kehidupan manusia baik aspek internal maupun eksternal diri dan aspek social dan moral berkehidupan di masyarakatnya.

 

Atas dasar berbagai asumsi di atas, jelas kiranya bahwa manusia akan dapat dididik, sehubungan dengan ini M.J. Langeveld (1980) memberikan identitas kepada manusia sebagai “Animal Educabile”. Dengan mengacu pada asumsi ini diharapkan kita tetap sabar dan tabah dalam melaksanakan pendidikan. Andaikan saja Anda telah melaksanakan upaya pendidikan, sementara peserta didik belum dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, Anda seyogyanya tetap sabar dan tabah untuk tetap mendidiknya. Dalam konteks ini, Anda justru perlu introspeksi diri, barangkali saja terjadi kesalahan-kesalahan yang Anda lakukan dalam upaya pendidikan tersebut, sehingga peserta didik terhambat dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

 

D. Pendidikan Sebagai Humanisasi

Definisi pendidikan. Telah kita pahami bahwa manusia adalah makhluk yang perlu dididik dan dapat dididik. Dan telah kita pahami juga bahwa eksistensi manusia tidak lain adalah untuk menjadi manusia dan begitulah keharusannya sebagaimana dinyatakan Karl Japers bahwa: “to be a man is to become a man” atau ada sebagai manusia adalah menjadi manusia (Fuad Hasan, 1973). Adapun manusia akan dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan. Maka dari itu, pendidikan tidak lain ialah humanisasi atau upaya memanusiakan manusia.

 

Sasaran pendidikan. Konsep hakikat manusia sebagai kesatuan yang serba dimensi dan terintegrasi sebagaimana telah kita pahami melalui uraian sebelumnya bahwa sasaran pendidikan bukan aspek badaniahnya saja, bukan aspek kejiwaannya saja, bukan pula aspek kemampuan berpikirnya saja, dst. Sasaran pendidikan pada hakikatnya adalah manusia sebagai kesatuan yang terintegrasi. Jika tidak demikian, pendidikan tidak akan dapat membantu kita demi mewujudkan atau mengembangkan manusia seutuhnya. Contoh: pada dasarnya setiap manusia telah menerima atau mengecap pendidikan. Tetapi dalam kehidupan ini kita menemukan fenomena bahwa diantara orang-orang yang memiliki mata dan memiliki telinga yang secara fisik adalah sehat , namun ternyata mereka tak “melihat” dan tak “mendengar”.

 

Ada diantara kalangan orang pintar yang memiliki segudang ilmu pengetahuan dan keterampilan, namun terrnyata mereka hidup tidak/kurang bermoral, tidak berperasaan, dsb. Terdapat orang-orang yang hanya mementingkan dirinya saja tanpa peduli pada sesama, dsb.

 

Berbagai fenomena itu dapat terjadi antara lain karena kesalahan konsep tentang hakikat manusia sehingga sasaran pendidikannya tidak berkenaan dengan manusia secara utuh. Tujuan dan fungsi pendidikan. Pendidikan diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktualitas) dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada padanya (potensialitas), dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang seharusnya atau dicitacitakan (idealitas). Mengacu kepada konsep hakikat manusia sebagaimana telah kita pahami melalui uraian dimuka, maka manusia yang dicita-citakan atau yang menjadi tujuan pendidikan adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME, berakhlak mulia, cerdas, berperasaan, berkemauan dan mampu berkarya; mampu memenuhi berbagai kebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan nafsunya; bekepribadian, bermasyarakat dan berbudaya.

 

Dengan demikian, pendidikan harus berfungsi guna mewujudkan atau mengembangkan berbagai potensi yang ada pada manusia dalam konteks dimensi keberagaman, moralitas, individualitas, sosialitas, dan berkebudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. Sifat atau karakteristik pendidikan. Pendidikan diarahkan menuju terwujudnya manusia ideal. Oleh karena itu, sesuatu tindakan dapat digolongkan kedalam upaya pendidikan apabila tindakan tersebut diarahkan menuju terwujudnya manusia ideal. Selain itu materi dan cara-cara pendidikannya pun perludipilih atas dasar asumsi tentang hakikat manusia dan tujuan pendidikan yang diturunkan daripadanya. Jika sebaliknya, maka tindakan tersebut tidak dapat digolongkan sebagai upaya pendidikan.

 

Sebagai humanisasi pendidikan seyogyanya meliputi berbagai bentuk kegiatan dalam upaya mengembangkan berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi keberagaman, moralitas, individualitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. Sebab itu pula, pendidikan adalah bagi siapa pun, berlangsung di mana pun, melalui berbagai bentuk kegiatan (informal, formal, maupun nonformal), dan kapan pun (sepanjang hayat). Ini berarti pula bahwa pendidikan perlu dilaksanakan pada setiap tahap perkembangan manusia sebab pentingnya pendidikan bukan hanya pada masa kanak-kanak saja melainkan sepanjang hayat.

 

Prinsip sosialitas mengimplikasikan bahwa pendidik mempunyai kemungkinan untuk dapat mempengaruhi peserta didik. Namun demikian, humanisasi bukanlah pembentukan peserta didik atas dasar kehendak sepihak dari pendidik sebab peserta didik bukanlah objek yang harus dibentuk oleh pendidik. Alasannya, bahwa peserta didik hakikatnya adalah subjek yang otonom. Sesuai dengan prinsip individualitas bahwa yang berupaya mewujudkan potensi kemanusiaan dan yang berupaya mengaktualisasikan diri itu hakikatnya adalah peserta didik sendiri. Sekuat apapun upaya yang dilakukan pendidik jika dilakukan dengan melanggar prinsip individualitas dari peserta didik, maka upaya itu sulit untuk dapat diterima oleh peserta didik. Oleh karena itu, pendidik bukanlah membentuk peserta didik melainkan membantu atau memfasilitasi peserta didik untuk mewujudkan dirinya dengan mengacu kepada semboyan ingarso sung tulodo (memberikan teladan), ing madya mangun karso (membangkitkan semangat, kemauan), dan tut wuri handayani (membimbing/memimpin).

 

Sifat pendidikan yang normatif dan dimensi moralitas mengimplikasikan bahwa pendidikan hanyalah bagi manusia, tidak ada pendidikan bagi hewan. Manusia dididik untuk menjadi manusia yang baik, berperilaku baik atau berakhlak mulia. Dipihak lain, manusia memiliki potensi untuk mampu berbuat baik, ia dibekali kata hati untuk dapat membedakan perbuatan baik dan jahat. Sementara hewan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan baik/tidak baiknya suatu perbuatan dan tingkah laku hewan tidak dapat dinilai baik ataupun jahat. Oleh karena itu, istilah dan makna pendidikan tidak berlaku untuk manusia.

 

A. Kesimpulan

Dalam paparan diatas, bisa kita simpulkan bahwa Hakikat Manusia terdapat 11 bagian. Diantaranya Manusia adalah Makhluk Tuhan YME. Manusia sebagai Kesatuan BadaniRohani, berarti manusia hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran dan penyadaran diri, mempunyai kebutuhan insting, nafsu, mempunyai tujuan, bertaqwa kepada Tuhan YME, potensi untuk berbuat baik, potensi untuk mampu berpikir, potensi untuk berperasaan, potensi berkehendak dan memiliki potensi untuk berkarya. Manusia adalah individual/personal, tetapi ia tidak hidup sendirian, tak mungkin hidup sendirian dan tak mungkin hidup hanya untuk dirinya sendiri, melainkan ia juga hidup dalam keterpautan dengan sesamanya (sosialitas). Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudayaan, ia hidup berbudaya dan membudaya, manusia menggunakan kebudayaan dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan atau mencapai tujuan. Manusia memiliki dimensi moralitas karena ia memiliki kata hati dapat membedakan antara baik dan jahat.

 

Keberagaman merupakan salah satu karakteristik esensialeksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sika dan prilakunya. Eksistensi manusia memiliki dimensi historisitas, artinya bahwa keberadaan manusia pada saat ini terpaut kepada masa lalunya, ia belum selsai mewujudkan dirinnya sebagai manusia, maka ia akan mengarah kemasa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Manusia berinteraksi/berkomunikasi untuk mencapai tujuan hidupnya, yang dilakukan baik secara vertical yaitu dengan Tuhannya, secara horizontal yaitu dengan alam dan sesama manusia serta budayanya dan bahkan dengan dirinya sendiri. Manusia sebagai dinamika, artinya manusia tidak pernah berhenti, selalu dalam keaktifan baik dalam aspek fisiologik maupun spiritual, dinamika itu adalah untuk penyempurna diri baik dalam hubungan dengan sesama, dunia dan Tuhan. Kemudia hakikat manusia yang terakhir adalah eksistensi, artinya mengadakan dirinya secara aktif, merencanakan, berbuat, menjadi, mewujudkan berbagai potensi secara optimal, sehingga beriman dan tertaqwa kepada Tuhan YME.

 

Manfaat dari Landasan Antropo-Filosofis Pendidikan yakni mengetahui pola serta perilaku manusia secara Universal, dapat mengetahui kedudukan, dengan mempelajari antropologi akan memperluas wawasan kita terhadap tata pergaulan umat manusia diseluruh dunia, dapat mengetahui berbagai macam Problema dalam masyarakat serta memiliki kepekaan terhadap kondisi-kondisi dalam.

 

Manusia perlu dididik dan mendidik dirinya, berdasarkan hal tersebut dapat ditemukan lima prinsip yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik, yaitu prinsip potensialitas yang bertujuan agar seseorang menjadi manusia idel, prinsip dinamika, prinsip individualitas, prinsip sosialitas yang mana Pendidikan hakikatnya berlangsung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar sesama manusia, dan prinsip moralitas.

 

Pendidikan sebagai humanisasi, berarti manusia adalah makhluk yang perlu dididik dan dapat dididik dan perlu dipahami pula bahwa eksistensi manusia tiada lain adalah untuk menjadi manusia. Implikasinya maka Pendidikan tiada lain adalah humanisasi (upaya memanusiakan manusia).

 

B. Saran

Saran kami untuk setiap orang yang menempuh pendidikan diharapkan bisa mengerti apam itu pendidikan dan manfaat pendidikan, sehingga setiap orang yang menempuh pendidikan

tidak hanya mementingkan intelektual, tapi juga mementingkan hakekat-hakekat sebagai manusia. Diharapakan dengan disususnnya makalah ini, dapat membuka pandangan setiap

pembaca dalam mengartikan pendidikan dan berhenti mendoktrin setiap orang bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menjadi cerdas, karena pada hakekat nya tujuan pendidikan adalah untuk menuju ke arah yang lebih baik dalam segala dimensi pada manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hasan, F. (1973). Berkenalan dengan Eksistensialisme. Pustaka Jaya: Jakarta

Henderson, S.v.P. (1959). Introduction to Philosophy of Education. Chicago: The University of Chicago Press.

Rasyidin, W. (2017). Landasan Pendidikan. Bandung: UPI Press.

Soelaeman, M.I. (1988). Suatu Telaah tentang Manusia Religi. Pendidikan, Depdikbud.

Sumantri, M. S., & MSM, P. (2015). Hakikat Manusia dan Pendidikan.

Suyitno, Y., (2008), Pemahaman Mahasiswa UPI tentang Hakikat Manusia dan Pendidikan, dalam Kerangka Kesiapan Menjadi Guru, Sekolah Pasca Sarjana, Bandung

MAKALAH-KEL6-LANDPEND-1B. (n.d.). Pendahuluan, A. (n.d.). MODUL 1 MANUSIA DAN PENDIDIKAN


Posting Komentar untuk "Manusia dan Pendidikan (Landasan Antropo-Filosofis Pendidikan)"