Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Tentang Aku dan Kamu yang Menjadi Kita




Tentang Aku dan Kamu yang Menjadi Kita
Sebelum aku dan kamu menjadi kita, banyak hal yang aku korbankan termasuk melukai hatiku sendiri. Aku mau cerita tentang kisah cintaku selama aku memasuki pendidikan tinggi di salahsatu universitas yang ada di Indonesia yaitu Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Tasikmalaya.

Sebelum aku mengenal laki-laki yang saat ini menjadi kekasihku, aku masih memiliki hubungan dengan pacarku sejak dari SMA sampai aku duduk di bangku kuliah semester satu tepatnya pada saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Banyak hal buruk tentangku yang bertebaran di luar sana, karena aku tiba-tiba memutuskan untuk memilih meninggalkan pacar aku itu, hal tersebut aku lakukan bukan semata-mata karena memilih dia yang sama sekali ngga mencintaiku, tapi memang aku sudah tidak merasakan kenyamanan saat aku bersamanya. Aku kira dengan meninggalkannya adalah solusi yang tepat dan cara yang paling bahagia, tapi nyatanya meninggalkan justru lebih menyakitkan daripada di tinggalkan, mau tahu kenapa ? karena aku sama sekali belum pernah di tinggalkan. Sudahlah lupakan!

Okeh, itulah sekilas tentang hubunganku dengan masa laluku. Aku akan bercerita awal mula aku dan kamu menjadi kita. Bermula dari pertemuan, diam-diam memperhatikan, seketika rasa yang tak biasa datang yaitu cinta, entahlah pokonya aku percaya semua rencana terbaik yang tuhan gariskan untuk hidupku.

Aku tahu, kala itu aku bukanlah bagian penting dalam hidupmu, kamu tak pernah menganggapku ada. Hanya saja perasaanku yang selalu menganggapmu adalah bagian penting dalam hidupku. Aku pernah mencintaimu dalam kesendirianku, dalam heningnya malam, dalam sunyi bertemen keikhlasan. Aku bahagia saat mencintaimu dalam diamku, tanpa kamu tahu sebenarnya isi hatiku ini. Percuma, yaa percuma. Karena meskipun kamu tahu tentang perasaan yang aku miliki untukmu, kamu tak sedikitpun mencintaiku, bukan ? jangankan hal itu melihatku saja seperti kamu tak mau. Sebut saja dia Malik yang kini menjadi kekasihku, setelah aku meninggalkan pacarku.

Aku adalah wanita yang mencintaimu dengan begitu tulus, diam-diam selalu memperhatikanmu bahkan disetiap doaku selalu hadir namamu tak pernah alfa walau sekalipun. Aku tidak pernah berharap memilikimu waktu itu, aku juga tahu diri, aku hanya mahasiswa baru yang berpenampilan sederhana, jauh dari kata sempurna, sedangkan kamu adalah kaka tingkat yang aku lihat memiliki pemahaman banyak tentang ilmu agama dan terlihat sepertinya memang pendiam, jutek, cuek bahkan jarang sekali melihatnya dekat dengan wanita, aku berpikir wanita pilihanmu adalah wanita yang berkerudung syar’i, bukan wanita sepertiku, itulah alasannya mengapa aku enggan mengutarakan perasaanku, namun walaupun begitu yang namanya hati tetap tidak bisa berbohong, kalau aku benar benar jatuh cinta padamu.

 Aku bukan hanya sekedar menyukaimu, hatiku berkata hal lain yaitu aku mencintaimu sejak kali pertama aku bertemu di salah satu acara kampus penerimaan mahasiswa baru atau biasanya dikenal dengan nama Mokaku UPI. Sungguh aku mencintaimu, meskipun aku belum mengenalmu. Aku simpan rapat-rapat dulu perasaan ini, biarkan kesendirianku saat ini menemani isi hati. Mencintaimu dalam diamku sudah cukup bahagia untukku.

Rasa penasaranku setelah kegiatan itu selesai aku langsung mencari informasi tentangmu, termasuk mencari tahu identitasmu, ku buka Instagram berulang kali, ku mencari-cari akun BEM dan ku lihat pengikutnya satu persatu sampai tanganku pegal tapi aku tak menemukannya, akhirnya ku ikuti akun instagram Kopma UPI dengan berjuang sekeras mungkin, akhirnya aku menemukan instagram milikmu.

Setelah ku dapati nama instagrammu, dengan memberanikan diri aku memfollowmu, lalu so kenal so dekat aku chat dengan pura-pura menanyakan organisasi di UPI itu seperti apa, sampai akhirnya aku mendapatkan nomor kontaknya, tapi meskipun aku selalu chat dia, responnya selalu cuek, bahkan biasa aja, ya karena  memang aku tahu dia tak menyukaiku. (kalau di pikir-pikir aku wanita yang tak tahu malu, memulai duluan, tapi aku ngga peduli selama aku mampu memperjuangkan aku yakin usaha akan sampai)

Berbulan-bulan aku chatan sama dia, perlahan dia merespons chatku dengan baik, sampai akihrnya aku terbawa perasaan, tapi eh tapi, pada nyatanya dia lebih menyukai perempuan lain daripada aku, perempuan itu adalah temanku sendiri. (patah hati yang terjadi).  Meskipun begitu dalam diam aku tetap bertahan dengan perasaan yang sama, aku masih mencintaimu. Aku tak berharap lebih, aku tak berharap kamu membalas perasaanku ko, padahal hati kecilku berkata lain. Sebenarnya aku ingin kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi bagaimana bisa ?

Tiba-tiba, tepatnya di bulan Agustus 2017, salah satu kegiatan di organisasi himpunan jurusanku yaitu kegiatan pengabdian, aku di tempatkan dengannya dalam satu posko, sungguh hal yang tak aku percaya seolah tuhan memberikan jawaban dari doa-doaku yang telah kupanjatkan, selama dua belas hari aku berada di atap yang sama, namun sebelum kegiatan itu dilaksanakan dia mengajakku untuk membeli lem yang dibutuhkan untuk kegiatan pengabdian di posko. Kaget dong, deg-degan, ngga karuan, pokoknya bingung, kaya mimpi tapi ini bukan mimpi, akhirnya aku dengannya pergi ke salahsatu tempat yaitu Plaza Asia untuk membeli lem, seneng banget bisa dibonceng dia. Setelah itu senjapun pergi meninggalkan langit, dia menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang, dengan senang hati aku menerima tawarannya, namun sebelum menuju ke rumahku dia berhenti di salahsatu tempat makan yang berada di pinggir jalan, masih gugup dan bingung aku harus di depannya atau di sampingnya, akhirnya aku memutuskan untuk duduk  berhadapan dengannya, terenyuh hatiku melihat dia yang begitu sangat sederhana dan membuatku semakin mencintainya, singkat cerita aku diantarkannya pulang sampai depan pagar rumah.

Ceritanya pengabdian pun dimulai, hari pertama, kedua, ketiga dia biasa aja sih selama di posko, meskipun aku sudah memberikan perhatian lebih selama aku bersamanya, meskipun seperti itu perasaanku tak akan pernah goyah sedikit pun, kalau aku tetap mencintainya. Sore itu, entah sore ke berapa hari aku tak ingat, sepertinya aku masuk angin sampai aku muntah-muntah, tiba-tiba dia seperti panic dan segera menuju posko utama untuk meminta tolak angin, akhirnya aku diberikan tolak angin. Hatiku selalu dibuat senang, tapi aku tak pernah tahu apa yang dia rasakan, mungkin itu hanya bentuk tanggungjawab saja sebagai ketua di poskoku.

Hari demi hari telah aku lalui bersamanya, sampai di hari ketujuh, dia mulai meminjam handphoneku, dia menghapus semua foto masa laluku, karena dia tahu aku sudah tak ada hubungan apa-apa lagi dengan masa laluku itu. Sedikit aneh dengan sikapnya yang seperti itu, seolah menyimpan perasaan yang sama terhadapku, tapi aku ngga mau terbawa perasaan.

Selama aku dengannya satu atap teman yang lainnya seolah mengerti dan mengetahui kalau aku mencintainya sehingga tempat dudukku pasti selalu berdekatan dengannya, kebetulan juga aku satu atap dengan sahabatku jadi dia tahu banyak hal. Kala itu dia makan sepiring berdua denganku, aku memberikan senyuman malu seperti yang gugup, dari sana aku terbawa perasaan lagi.

Entah dihari keberapa, ketika itu ada email masuk ke handphoneku dari kemendikbud mengenai beasiswaku dan kebetulan handphoneku dipegang oleh dia, dia memberitahuku kalau aku lolos beasiswa unggulan dan harus pergi ke Cimahi untuk melakukan wawancara, esok harinya aku diantarkan pulang dari tempat pengabdian di Cidugaleun Kabupaten Tasikmalaya, menuju rumahku di Kawalu yang jaraknya cukup jauh. Dia rela pulang pergi demi aku, terbawa perasaan lagi deh jadinya.

Berangkatlah aku ke Bandung. Setelah pulang dari Bandung dia menjemputku kembali ke rumah tapi tidak aku persilahkan masuk karena dia bukan siapa-siapa, akhirnya aku dengannya pergi ke Pasar Padayungan untuk membeli sayuran dan kebutuhan lainnya. Sepanjang jalan banyak hal yang aku ceritakan padanya, dia meresponnya dengan sangat baik dan membuatku semakin mencintainya.

Masih tersisa waktu tiga hari lagi, selama tiga hari terakhir dia mulai menciptakan perhatian lebih padaku, seperti : pada saat acara tujuh belasan aku dengan terpaksa harus diam di rumah dengan seorang diri karena kondisi badanku sedang sakit, sedangkan yang lainnya arak-arakan menuju lapangan yang jaraknya sangat jauh, tiba-tiba ada tiga pemuda kampung yang menggedor pintu poskoku, aku gemetar karena aku takut terjadi apa-apa, aku telpon dia, ngga lama kemudian datanglah dia, akhirnya aku memutuskan untuk memaksakan diri ikut bersamanya ke lapangan, dia membangunkanku di sepertiga malam, di saat semua orang tidur terlelap. Jujur, aku ingin berkata “subhanallah, terimakasih sudah membangunkanku untuk tahajud, tapi entah kenapa mulutku seperti terkunci karena bahagianya sehingga tak bisa berkata apa-apa.”

Pokoknya berbagai hal romantis yang sederhana mulai dia ciptakan, hingga aku benar-benar terbawa perasaan.

Di akhir kegiatan semua barang miliknya di titipkan padaku di mobil, karena dia pulang terakhir menggunakan motor, sesampainya di kampus, setelah dia datang aku bilang kalau barang miliknya berada disini sudah aku rapihkan. Tak ada pamit apapun, aku pulang bersama temanku menggunakan angkutan umum. Saat di perjalanan, handphoneku berbunyi, ternyata dia nelpon “kenapa pulang duluan ? tadinya mau dianterin?” aku jawab dengan penuh penyesalan “ gapapa ko takut ngerpotin” padahal ingin banget dianterin, tapi yasudahlah lain waktu.

Setelah kegiatan pengabdian berlalu, perkuliahan berjalan seperti semula, aku tak berharap lebih darinya, bahkan jikapun suatu nanti kita bersatu, itu adalah jawaban dari doa-doa yang telah aku panjatkan pada sang Illahi. Kuncinya adalah saat keyakinan itu ada, percaya tuhan itu akan mengabulkan, usaha dan doa semua pasti akan sesuai harapanan.

Singkat cerita, 31 Agustus 2017. Sepulangnya dari kampus, dia ingin mengantarkanku pulang, namun sebelum pulang, mamahku menyuruhku membeli kertas payung, lalu aku bersamanya membeli kertas payung, setelah itu kita berhenti disalah satu tempat makan terkenal yaitu ayam bakar hen-hen dia mengungkapkan perasaannya dong, dia mengatakan “kamu mau jadi pacar aku ?” mimpi apa aku. Kalau memang mau serius ayo ke rumah saja, langsung aku ajak dia ke rumah dan aku kenalkan pada orangtuaku. Serius ini adalah hal terindah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seumur aku berpacaran baru kali pertama aku memperkenalkan laki-laki pada kedua orangtuaku. Akhirnya tepat di tanggal 31 Agustus 2017 kisah asmaraku dimulai dengannya, yang menjadikan aku dan kamu berubah menjadi kita sampai saat ini.

Ternyata setelah aku tanya, kenapa dia dulu cuek, biasa aja, karena dia tahu kalau aku masih mempunyai pacar sehingga dia menjaga jarak denganku dan sempat dekat dengan temanku, padahal sebenernya dia juga memiliki perasaan yang sama denganku.

Jadi tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini selama kita mau berusaha, berdoa dan percaya. Jangan pernah merasa gengsi atau malu untuk memulai. Karena ternyata siapapun yang memulai jika tuhan berkehendak maka jadilah apapun harapannya.

Saat kita mencintai seseorang dengan penuh ketulusan, keikhlasan meskipun hanya satu pihak, percayalah tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih indah.

Terimakasih tuhan atas segala hal yang telah engkau berikan padaku.
Semoga kamu adalah yang terakhir untukku.
Kamu adalah salahsatu anugrah yang tuhan berikan untuk mengajariku artinya kesabaran dalam penantian.

Tasikmalaya, April 2020
Tika Marwati

Post a Comment for "Tentang Aku dan Kamu yang Menjadi Kita"