Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Model Self Control Learning



Model Self Control Learning
Model Self-control merupakan model pembelajaran yang menggunakan prinsip-prinsip operant conditioning, dimana suatu tingkah laku dipengaruhi oleh konsekuensi yang mengikutinya. Suatu stimulus yang dapat menghambat efektifitas belajar, harus dihilangkan sebaliknya, mengadakan suatu stimulus yang bisa meningkatkan efektifitas belajar. Yang perlu  diperhatikan dalam model pembelajaran  ini adalah stimulus kontrol dan penguatan positif. Meskipun demikian, kendali bukan guru tapi pada siswa sendiri. Kita tahu bahwa lingkungan sangat menentukan perilaku seseorang. Terjadinya perilaku positif atau negatif sangat berkaitan dengan seting lingkungan disekitarnya. 

Menurut Joyce bahwa salah satu faktor kritis yang menghambat perubahan dalam bentuk kontrol diri adalah kondisi lingkungan yang awalnya memberikan stimulus tingkah laku penghancuran diri. Misalnya  bila seorang yang tidak bisa fokus belajar dalam suasana yang bising, tetapi terus belajar sambil atau dekat dengan tv yang menyala, maka tingkah laku belajarnya tidak akan efektif.  Kunci dalam stimulus kontrol adalah merubah lingkungan. Perubahan lingkungan bisa berbentuk fisik, misalnya mematikan televisi, belajar dalam ruangan sendiri, memilih tempat yang sunyi, mematikan handphon, dan sebagainya. Mengurangi stimulus yang dapat menimbulkan tingkah laku negatif merupakan cara dalam mengontrol lingkungan.

Orientasi Model
Prinsip-prinsip operant conditioning yang digunakan dalam manajemen kontingensi juga digunakan pada model self-control, terutama kontrol stimulus dan penguatan positif. Namun, dalam model ini aspek-aspek tersebut benar-benar di tangan peserta. Masalah  self-control berkaitan dengan :
1.      Langkah pertama membuat orang sadar akan jangka pendek dan jangka panjang.
Contoh : Perokok
2.      landasan prosedur self-control memperhatikan dan sengaja mengatur lingkungan yang lebih baik (lingkungan faktor penghalang).
Contoh : tipe belajar auditori belajar pada lingkungan yang bising
3.      Stimulan untuk mengalahkan diri sendiri adalah perilaku rahasia (covert control), ketika berpikir seperti, “Semua orang memahami materi ini, kecuali aku”.

Gagasan membentuk berlaku untuk program self-control serta program manajemen kontingensi. Individu sering gagal dalam upaya self-control karena mereka menetapkan tujuan mereka terlalu tinggi sehingga tidak pernah memperoleh dukungan positif untuk usaha mereka. Mereka melihat tugas sebagai semua-atau-tidak. Jika mereka, “gagal" sekali untuk mengontrol perilaku yang tidak diinginkan, mereka menyerah dan percaya bahwa program ini telah gagal. Mengubah sikap seperti apa yang disebut sukses adalah fitur penting ketiga dari program self-control. Individu dapat dibantu dalam pengaturan kontinum  perilaku realistis di mana beberapa keberhasilan yakin terjamin. Rimm dan Master merangkum prinsip operan dasar dimana siswa harus terbiasa sebagai berikut:

1.      Kontrol diri bukan masalah kemauan. Sebaliknya, ia datang sebagai hasil manipulasi kejadian bijaksana terdahulu dan konsekuen, dalam keserasian  dengan prinsip belajar.
2.      Individu harus mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa perilaku terkendali stimulus dengan menggunakan salah satu taktik berikut:
      Secara fisik mengubah lingkungan stimulus.
      Mempersempit berbagai rangsangan memunculkan perilaku yang tidak diinginkan.
       Memperkuat hubungan antara rangsangan tertentu dan perilaku yang diinginkan.
3.      Individu  harus menentukan peristiwa dengan imbalan ampuh dan mengelola mereka segera setelah tanggapan yang sesuai.
4.      Individu harus menentukan respon bersaing dengan dan menghambat perilaku yang diinginkan, dengan tujuan melemahkan mereka. Dia harus menentukan respon bisa berfungsi sebagai alternatif yang sehat untuk cara berperilaku yang tidak diinginkan, dengan tujuan memperkuat mereka.
5.      Individu harus berusaha untuk mengganggu rantai perilaku yang mengarah ke respons yang tidak diinginkan sedini mungkin dalam rantai.
6.      Langkah-bijaksana tujuan perilaku dalam program self-control harus selalu mudah dicapai. Artinya, klien harus merencanakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan secara keseluruhan dengan cara yang sangat bertahap.
7.      Pikiran mengerahkan sejumlah kontrol atas perilaku. Pikiran dapat dianggap sebagai perilaku internal yang tunduk pada prinsip yang sama berlaku untuk belajar perilaku terbuka.
8.      Kontrak yang melibatkan pertukaran reinforcers dapat diatur antara klien dan terapis, dari antara klien dan beberapa pihak lain. Kontrak tersebut mungkin berfungsi sebagai dasar tambahan untuk motivasi.

Sintaks
Pengajaran dengan model ini pada dasarnya dibagi kedalam empat tahap:
Tahap pertama
Guru memperkenalkan program kontrol diri dan beberapa prinsip kontrol diri. Tujuan dalam tahap ini adalah membangun pengertian siswa bahwa kesulitan dalam belajar merupakan pengaruh dari lingkungan dan bukan hal yang permanen atau tidak bisa dirubah, dan juga guru menjelaskan beberapa prinsip dasar dari kontrol diri. Ada beberapa prinsip yang perlu diketahui siswa, prinsip-prinsip ini diringkas oleh Rimm dan Masters (dalam Joice dan Weil) diantaranya adalah:

a.      Kontrol diri bukanlah masalah tentang keinginan. Tetapi ini tentang hasil manipulasi yang bijaksana dari kejadian yang mendahului atau pun setelahnya, sesuai dengan prinsip pembelajaran.
b.      Siswa harus mengambil keuntungan dari fakta bahwa tingkah laku dipengaruhi oleh stimulus kontrol dengan menerapkan beberapa taktik di bawah ini:
1.      Perubahan fisik stimulus lingkungan
2.      Mempersempit stimulus yang mengakibatkan tingkah laku yang tak diinginkan
3.      Memperkuat hubungan antara stimulus dengan tingkah laku yang diinginkan
c.       Siswa harus menetapkan kejadian yang berpotensi mendapat penghargaan dan mengelolah secepatnya setelah mendapat respon yang tepat
d.      Siswa harus menentukan respon mana yang berhubungan (meningkatkan) dan yang mana yang menghambat tingkah laku yang diinginkan.
e.      Siswa harus berusaha untuk memutuskan rantai tingkah laku yang mengarah pada respon yang tidak diinginkan secepat mungkin.
f.        Langkah bijaksana tujuan behavioral dalam sebuah program kontrol diri seharusnya selalu mudah dicapai. Yaitu, siswa harus membuat rencana untuk mencapai keseluruhan tujuan dengan cara bertahap.

Tahap kedua
Menetapkan dasar pijakan. Guru dan siswa setuju dalam prosedur dan jadwal untuk mengumpulkan data dasar mengenai tingkah laku yang menjadi sasaran. Penetapan dasar ini tujuannya adalah untuk menyesuaikan pengontrolan stimulus, konsekuensi penguatan, dan kemungkinan tingkah laku yang diinginkan dan yang tidak diinginkan.

Tahap ketiga
Membuat program. Terutama membuat keputusan dalam stimulus lingkungan dan penguatan. Menentukan tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Siswa menyusun program kontrol diri dan dibantu oleh guru.

Tahap keempat
Memonitor dan memodifikasi program. Pada tahap ini siswa melaksanakan program yang telah dibuat, kemudian dibantu oleh guru untuk mengevaluasi kemajuan program serta memodifikasi jadwal, penguatan, atau stimulus kontrol bila diperlukan

System Sosial
Struktur dalam model dari sedang sampai rendah. Meskipun instruktur penting dalam memulai kemungkinan program, siswa akhirnya memiliki kontrol inisiasi dan pemeliharaan aktivitas, banyak yang dilakukan secara independen dari sesi bersama. Selain itu, semua program self-control dinegosiasikan dengan siswa. Maksudnya dalam model ini, guru menjadi fasilitator dalam membantu siswa untuk mengatur aktifitas. Semua aspek dari program control diri dinegosiasikan dengan siswa.

Prinsip Reaksi
Prinsip reaksi atau peran guru Guru berperan penting untuk suksesnya program control diri.
1.      Guru selalu mengingatkan siswa bahwa perilaku berada di bawah kontrol lingkungan dan bukan merupakan fungsi dari kelemahan pribadi (secara bertahap, peran ini akan berkurang).
2.      Guru menjamin rasa realisme (dan ketegasan) dalam merencanakan dan melaksanakan program self-control, melihat memastikan bahwa tujuan yang wajar ditetapkan dan tidak menuntut kesempurnaan.
3.      Guru menawarkan bimbingan intelektual siswa dalam menerapkan prinsip perilaku dan teknik.

Aplikasi
Salah satu penggunaan terbaik dari model self-control adalah menuju perbaikan sebuah kebiasaan belajar. Mungkin siswa memiliki kendala terbesar di daerah ini, mereka cenderung mengatur tujuan. Sesudah    sepanjang sejarah kegagalan dalam sebuah subjek area, mereka mungkin berharap diri untuk melakukan beberapa jam atau banyak halaman tanpa gangguan bekerja. Bisa ditebak mereka akan gagal. Frustrasi mereka dengan kesulitan tugas akan memuncak, dan dalam waktu singkat mereka akan menyerah, membenarkan asumsi asli mereka, "saya tidak baik - aku tidak bisa melakukannya!" salah satu peran paling penting dari instruktur adalah membantu siswa membentuk suatu program dengan tujuan-tujuan kecil, seperti sepuluh sampai lima belas menit studi, atau beberapa halaman dari buku teks.  Teknik lain self-control untuk meningkatkan waktu belajar yaitu :
1. Mengubah lingkungan stimulus (misalnya, memilih tempat yang tenang bebas dari gangguan dan orang).
2. Penguatan isyarat (membuat meja atau wilayah studi hanya digunakan untuk tujuan ini).
3. Penguatan (membatasi tugas sehingga siswa dapat mengalami kesuksesan sebelum kebosanan dan frustrasi di set).

Instruksional dan Nuturant Efek
Model ini secara langsung melatih target perilaku sasaran dan juga menghilangkan perilaku maladaptif. Hampir semua perilaku yang memenuhi syarat untuk model ini, terutama mereka yang membutuhkan jumlah besar kontrol diri. Model ini juga memiliki nuturant effect yang kuat : ia mengajarkan individu bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka dan diri mereka sendiri, dan ini meningkatkan harga diri. Hal ini juga mendorong individu untuk melihat dunia dari sudut pandang perilaku, memperhatikan stimulus dan reinforcment dalam interaksi mereka dengan orang dan berbagai hal.

Post a Comment for "Model Self Control Learning"