Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Aku dan Salmonella Typhi


Aku dan Salmonella Typhi

Assalamualaikum wr wb
Pada tulisan kali ini aku mau berbagi kisah,  cerita dan pengalaman tentang aku dan salmonella typhi (Penyakit Tifus atau Tipes)  yang menyerangku tepat di awal bulan Januari tahun 2020. 

Sebelumnya, aku tidak pernah merencanakan untuk sakit, aku selalu merencanakan sesuatu hal yang baik, bahagia padahal hidup itu tidak melulu tentang bahagia karena setiap manusia ada haknya untuk bahagia pun bersedih. Tahun baru aku sambut dengan penuh rasa syukur karena aku bisa merasakan dan bertahan hidup sampai detik ini, meskipun harapan tidak sesuai dengan kenyataan aku selalu menikmati apa yang telah Allah takdirkan untukku. Di awal Januari, jika semua orang berbahagia aku juga bahagia meskipun aku harus berjuang melawan virus salmonella typhi. Rasa sakit diawali dengan demam tinggi, kepala cenat cenut, badan lemes dan nafsu makan berkurang sejak tanggal 3 Januari 2020 dan aku belum sadar kalau aku sedang sakit tipes kala itu. Padahal, tanggal 6 Januari adalah hari dimulainya perjuangan, hari pelepasan Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan Mahasiswa PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya, kala itu hari berganti begitu cepat hingga tiba di tanggal 6, dan aku tetap memaksakan diri untuk pergi ke kampus mengikuti kegiatan pelepasan, meskipun banyak orang bertanya-tanya tentang keadaanku, aku hanya terdiam dan memberikan senyuman, sesekali aku memberikan jawaban kalau aku sedang tidak enak badan.

7-11 Januari adalah masa observasi Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (PLSP), aku sedikit kebingungan dan bimbang apakah aku harus memaksakan pergi ke sekolah tempatku PLSP yang jaraknya cukup jauh atau istirahat di rumah, namun hati kecil lebih berat untuk pergi saja ke sekolah, akhirnya aku memaksakan diri berangkat subuh dari rumah untuk ke kampus dan aku pergi ke SD bersama sahabatku yang selalu menjadi tempatku mencurahkan segala penat Risma namanya, dia adalah anugrah terindah yang Allah berikan untukku dan sengaja Allah satukan kita dalam satu kelompok PLSP. Satu sampai tiga hari mampu aku lalui meskipun setelah pulang sekolah kepalaku terasa sangat pusing, badanku demam tinggi hingga 39,3 akhirnya tanggal 9 sampai 11 aku memutuskan untuk tidak berangkat ke sekolah karena kondisi kesehatanku yang sangat tidak memungkinkan untuk pergi, aku rehat di rumah, dan orangtuaku memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanku, aku diperiksa seperti biasa pasien pada umumnya, dokter hanya berbicara kalau aku kecapean badanku ngedrop dan aku harus istirahat, aku mengikuti saran dokter selama beberapa hari sampai aku merasa badanku lebih enakan, kalau ngga salah aku istirahat tiga hari.

Tibalah waktunya masa terbimbing yang dilaksanakan satu pekan setelah masa observasi aku memaksakan diri berangkat ke sekolah, anehnya waktu pagi badanku terasa lebih segar namun menjelang sore sampai malam suhu badanku terus naik dan kepala sangat pusing, aku hampir tak bisa menahan sakitnya. Akhirnya dokter kembali dipanggil dan mendiagnosis kalau aku sakit DBD namun setelah diambil darah ternyata aku positif terkena virus salmonella typhi yang sudah akut, aku sakit tipes yang sudah parah dan benar-benar harus bedrest selama satu minggu. Dokter memberikan dua pilihan di rawat atau di rumah, namun aku memilih untuk di rumah saja, dengan alasan aku tak pernah menyukai ruangan yang ada di rumah sakit, aku takut jika harus di infus, akhirnya dokter menyanggupi menanganiku dirawat dirumah, meskipun hati kecil ini menangis bersedih karena semester ini adalah semester akhir dimana segala hal membutuhkan badan sehat dan kuat namun kenapa Allah membiarkan aku sakit seperti ini, aku tertinggal PLSP selama dua pekan, tertinggal seminar proposal, tertinggal bimbingan dan tertinggal semua hal, aku menangis menyesali apa yang sudah terjadi, penyakitku ada karena ulah aku sendiri yang  makannya tidak teratur, tidak bisa menjaga pola makan dengan baik akhirnya aku sakit.

Disisi lain aku mengeluh, mengapa Allah memberikan ujian seberat ini untukku ? mengapa Allah biarkan virus itu ada didalam usus halusku ? seketika aku terenyuh tiba-tiba mengingat almarhumah sahabatku yang telah berpulang lebih dulu, sebelumnya diapun sakit tipes, darisana aku sadar bahwa sebaik-baiknya rencana manusia tetap rencana paling baik adalah rencana Allah. Setelah beberapa hari aku menangis, aku mengingat sesuatu yang paling dekat denganku yaitu kematian, semenjak aku sakit aku buang semua rasa sedih yang aku rasakan, aku ganti dengan rasa syukur, bersyukur meski aku sakit aku masih bisa beribadah dan memohon doa kepada pemilik nyawa ini “Allah SWT”, saat aku libatkan Allah dalam keadaan apapun, suasana seperti apapun aku merasa semua penyakit yang aku rasakan seakan-akan perlah mulai hilang, terlebih melihat perjuangan ayah yang baru pulang kerja sudah kesana-kemari mencari cacing untuk mengolahnya dengan sendiri demi kesembuhanku, disaat orangtua dan orang-orang baik disekitarku memperjuangkan kesembuhanku, masa aku sendiri tidak berjuang, dukungan dan doa teman-teman melalui whattsapp pun begitu banyak masa aku tidak berkeinginan sembuh, dari sanalah aku belajar banyak hal. Belajar bersabar menahan rasa sakit, belajar bersyukur meskipun keadan berduka, belajar mengikhlaskan apa yang terjadi pada diri sendiri.

Aku percaya, bahwa Allah maha adil, maha bijaksana, akupun percaya Alllah sedang mengujiku melalui sakitku ini. 

Terucap syukur karena dikelilingi orang-orang yang begitu mencintai dan menyayangiku mamah bapa yang sudah mengandungku, mamah bapa yang sudah membesarkanku, Teh Cici yang selalu siap setiap waktu membawakanku bubur pagi, siang, sore, malam, Teh Cucu yang memberikan dukungan materi, Bi Heni, Mang Yudi yang sudah memberikan perhatian lebih padaku, A Irfan dan keluarga yang sudah mendukungku, memotivasi setiap waktu dan mendoakanku, teman-teman istri idaman (Annisa, Alfin, Haifa, Cacabia, Widi dan Zahara) yang selalu menjadi penghibur, Risma, Widani dan Siti yang sudah menyempatkan menjengukku ke rumah, Ibu-ibu pengajian yang sudah memberikan doa dan meluangkan waktunya untuk menjengukku, Si kembar Ade Ineu dan Eneng yang memberikan dukungan untukku sehat, teman-teman semua yang sudah memotivasiku Adin, Sarah Umma, Resti, Mida,  Mba Yuli, Banca, Dita, Rina, Silvia, Opi, Kiki, Eer dan lainnya yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu.

Hikmah yang bisa aku ambil dari kejadian yang sudah terjadi padaku adalah selalu bersyukur apapun keadaanya, suka, sedih, bahagia, duka tangis bahkan tawa bersyukur adalah satu-satunya solusi untuk menikmati segala hal yang menimpaku, saat aku sakit satu hal yang harus diingat adalah kematian, saat aku sakit aku selalu mengingat kematian agar aku tidak melupkan solat dan Allah, sat aku sakit aku jadi tahu bahwa tubuh ini membutuhkan makanan yang sehat, membutuhkan pola makan yang teratur, dan satuhal lagi menerima dengan lapang dada apa yang telah Allah berikan kepada kita, karena dalam hidup kita tidak hanya berhak bahagia saja, tapi kitapun berhak bersedih.

Terimakasih buat kalian yang sudah membaca tulisanku, semoga bermanfaat.  
Doakan semoga aku lekas memabaik dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Tasikmalaya, Rabu 22 Januari 2020
Tika Marwati

2 comments for "Aku dan Salmonella Typhi"

  1. Aamiin. Yuk jangan kalah sama virus! Semangaaaat kakak

    ReplyDelete