Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Tuhan, Mengapa Aku Berbeda

 Oleh,
Tika Marwati
Namaku Simi, aku tinggal bersama saudaraku, tapi aku mengangap mereka seperti ayah dan ibu kandungku. Aku panggil mereka pun dengan sebutan ayah dan ibu bukan paman, bibi ataupun wawa. Aku bersyukur dengan apa yang telah tuhan berikan untukku. 
Sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama, tepatnya kelas 8, aku sudah merasakan bagaimana sulitnya mencari uang dan bagaimana lelahnya bekerja sambil berpikir, kala itu aku ditawarkan oleh saudaraku untuk sekolah di tempat yang lebih baik, lebih luas, lebih lengkap pokoknya serba ada deh, ngga seperti di kampung halamanku, mereka menawarkan diri untuk membawaku ke rumah mereka di Kota, meraka akan menyekolahkanku, membiayai semua kebutuhanku , awalnya aku menolak, karena aku ngga pernah mau untuk sedikitpun jauh dari ayah dan ibu kandungku, meskipun saat ini keluargaku sudah tak punya apa-apa, tapi aku merasa bahagia saat dekat dengan mereka, namun dorongan yang begitu kuat dari orangtua kandungku untuk ikut saja ke kota , karena mereka bilang “ pergilah nak, kejar semua mimpimu, ibu akan mendukungmu sekuat dan semampu ibu.” Dengan berlinang air mata dan menatapku tajam ibu memintaku agar aku ikut bersama saudaraku ke kota. Akhirnya, dengan berat hati aku putuskan untuk pindah sekolah dan tinggal bersama saudaraku.
Hari demi hari aku lewati, tibalah di penghujung acara kenaikan kelas di sekolahku, aku menangis, aku mengucapkan salam perpisahan untuk teman-teman dan guruku, karena sebentar lagi aku akan pindah dari sekolahku ini.
Tibalah waktunya untuk aku sekolah di tempat baru dengan semester baru , ruangan kelas baru, suasana baru, teman baru bahkan keluarga baru, sekali seumur hidupku merasakan yang namanya murid baru, dan itu ngga membuat ku suka. Aku sekolah di salahsatu sekolah Negeri di Kota ini, aku di antar saudaraku sebutlah dia ibu keduaku untuk pergi ke kelas, saat aku di depan kelas, ibu pamit pergi karena ibu juga harus ke sekolah dan aku masih berdiri di depan kelas. Enggan rasanya untuk masuk ke ruang kelasku itu, aplagi dengan penampilanku yang culun, coba bayangkan, yang biasanya aku sekolah di kampung sekarang aku harus sekolah di kota, otomatis akan berbeda. Akhirnya, dengan tangan yang bergetar, aku memberanikan diri untuk masuk ke kelas itu, aku di tempatkan di kelas F, dan saat aku masuk aku di katain mereka “ cie murid baru” dan aku duduk paling belakang, sendiri lagi, karena jumlah wanita di kelas itu berjumlah genap terdiri dari 14 orang, ya terpaksa aku harus ikhlas. 
Kebiasaan yang tak biasa aku lakukan di rumahku, di rumah ini aku harus membiasakan diri mulai dari bangun pagi, beres-beres rumah salahsatunya mencuci piring, menyapu dan banyak hal lain yang harus aku kerjakan, bayangkan semenjak aku tinggal di kota bersama mereka sebelum berangkat ke sekolah aku harus mengerjakan pekerjaan rumah, apa yang kalian rasakan saat kalian berada di posisiku ? beres-beres, mikir di sekolah, tugas sekolah inilah, itulah pokoknya membuatku begitu lelah, satu tahun aku lewati, dua tahun aku lalui hingga aku lulus SMP. Keluargaku di kota selalu bangga dengan prestasi yang aku raih, dan aku bersyukur meskipun aku harus mengerjakan pekerjaan rumah yang begitu berat, aku bisa menjadi bintang di sekolah.
Dua tahun masa putih biru sudahlah berlalu, tibalah di masa putih abu, mereka masih bersedia menyekolahkanku, membiayai hidupku lagi dan lagi aku bersyukur bisa sekolah dan merasakan masa seragam putih abu, meskipun badan lelah, otak pun lelah tapi aku harus menunjukan pada ayah dan ibu kandungku di kampung kalau aku bisa seperti orang lain, aku bisa sekolah, aku bisa berprestasi bahkan aku bisa membuat bangga mereka. Pada masa SMA, sekolah full dari hari senin sampai sabtu, aku rasa jika aku sekolah hanya sekolah ya sama saja seperti anak sd yang sekolah. Akhirnya aku berpikir dan memutuskan untuk mengikuti organisasi yang aku inginkan, karena aku butuh teman selain teman-temanku di kelas, aku butuh relasi dan pada ujungnya aku bergabung di OSIS dan Mading, hobiku menulis akhirnya bisa aku salurkan melalui mading, meskipun kegiatan organisasi ini menyita banyak waktu, tapi aku menjalani dengan sepenuh hati. Terkadang aku minder sama teman-temanku, karena mereka mungkin orang berada, sedangkan aku ? aku hanya seorang anak beruntung yang di sekolahkan oleh keluarga yang baik tapi tetap yang terbaik adalah orangtuaku di kampung. Jika aku berpikir mereka baik, seharusnya mereka bisa saling mengerti, bisa saling membantu, tapi pada nyatanya aku merasa seperti pembantu yang gajih nya aku gunakan untuk bekel sekolahku, seandainya mereka tulus menyekolahkanku, aku yakin mereka akan bersikap seperti layaknya orangtua ke anak, namun pada faktanya aku memang seperti pembantu, aku tak pernah punya banyak waktu untuk bermain seperti remaja pada umumnya, ya tujuan dan pikiran yang selalu menggeluti otakku hanyalah tugas sekolah, beban beres-beres di rumah. Aku ngga mungkin seperti orang lain yang setiap hari minggu pergi ke CFD, waktu liburku di hari Minggu aku gunakan untuk menyapu rumah, mencuci piring, mengepel, mencuci baju, menggosok baju, membersihkan WC dan pekerjaan lain, aku berpikir tugas rumah itu akan di bagi-bagi dengan orang-orang yang berada di rumah ini, namunpada nyatanya tidak. Sudahlah ini sudah menjadi garis takdirku dan aku harus menerima ini dengan penuh ketulusan. Sekalinya aku di ajak jlan-jalan atau pergi malam minggu itu bukan membuat aku bahagia, justru membuatku semakin lelah, dimana aku harus menjaga cucu mereka, aku harus mengajak main mereka , sedangkan mereka bisa dengan tertawa melihat kanan kiri, kadang aku selalu bertanya “tuhan, kenapa aku berbeda ?” kenapa aku ngga seperti teman-temanku yang lainnya, tapi sssst sudahlah aku hanya numpang di rumah ini lagi dan lagi aku harus menahan semua emosi yang tersimpan dalam jiwa.
Tiga tahun sudah aku menikmati masa putih abu yang penuh dengan tangis dan haru, tibalah menuju masa yang berbeda, yaitu mahasiswa. Sebenarnya aku tidak akan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri, karena biaya yang begitu mahal dan aku tak bisa membayangkan dari mana uang sebesar 18 juta harus aku cari demi sekolahku, lagi dan lagi mereka orangtua keduaku lah yang memberikan aku biaya untuk aku kulaih, selama dua semester biaya kehidupan dan ukt perkulihan mereka yang membayarnya, di semester 3 sampai berikutnya mereka sudah lagi tak membiayaiku karena aku bersyukur bisa mendapatkan salahsatu beasiswa dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, beasiswa itu sangat membantuku memenuhi semua kebutuhanku mulai dari biaya hidup, buku dan UKT. Selama 3 tahun, pokoknya sampai aku wisuda beasiswa itu diberikan untukku. Aku pun tahu diri, siapa aku ? tapi, aku ngga pernah habis pikir, saat mereka ingin menyekolahkanku, mereka berkata ikhlas, tulus, namun semakin aku dewasa, aku mulai semakin mengerti, bahwa sesungguhnya tidak ada yang tulus di bumi ini kecuali sang pencipta, aku yakin jika mereka semua tulus menyekolahkanku, mereka tidak akan mengungkit atau membahas tentang perjuangan mereka membiayaiku, yang aku rasakan mereka itu seperti meminta balas jasa padaku, tapi aku harus mencoba untuk tenang dan ikhlas, karena semua ujian aka nada akhirnya. Setelah aku sudah lagi bukan menjadi beban mereka dalam hal keuangan, aku berharap mereka ada sedikit saja pengertian, minimal berbagi tugas di rumah, namun pada realitanya, masih sama taka da perubahan, semua hal aku kerjakan sendiri, bayangkan di rumah ini terdiri dari 4 kamar mandi, dan itu aku yang membersihkannya, terdiri dari 4 jiwa termasuk aku dan lagi aku yang harus mencuci, menjemur sampai menyetrika, rumah yang begitu luas aku yang harus mengelap, menyapu sampai mengepel, bahkan hal terkecil seperti mengunci gembok pagar aku yang melakukannya. Tuhan ? aku ingin sehat, aku ingin bahagia, meskipun setiap malam aku selalu menangis karena lelahnya tubuh dan beban pikiran mulai dari biaya sehari-hari, tugas kuliah dan lainnya, aku ngga pernah berani untuk cerita pada orangtua kandungku, aku ngga mau meraka tahu, kalau sebenarnya aku ngga pernah bahagia berada di rumah ini, yang ada hanya tekanan dan keterbatasan waktu.
Tapi, seiring berjalannya waktu aku memahami konsep hidup. Aku memahami arti cinta yang tulus, dan baru kali aku sadar, bahwa segala sesuatu yang kita impikan perlu doa dan perjuangan, dan aku sadar bahwa perjuanganku belum ada apa-apanya. Meskipun aku bukan dari keluarga berada, aku bersyukur tuhan memberikan aku laki-laki tulus yang menerima aku apa adanya, menerima segala kekuranganku, menyayangiku dan mencintaiku dengan ketulusan hatinya. Terimakasih tuhan untuk semua yang telah engkau berikan padaku.

Post a Comment for "Tuhan, Mengapa Aku Berbeda"