Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Rindu Ayah


Aku tak pernah mengerti dengan keadaanmu yang selalu tegar dan kuat pada setiap situasi apapun. Terkadang, kau tak pernah merasa kedinginan di saat hujan hadir, kau tak pernah merasa kepanasan di saat mentari tepat di atas kepalamu mengiringi setiap langkah perjuanganmu untukku.

Sebelum fajar tiba, bahkan ayam pun belum terbangun kau sudah bangun lebih awal untuk siap-siap pergi ke tempat kau bekerja, mengelili kota yang terkenal dengan kota domba kau rela mengorbankan segalanya demi orang lain. Apakah kau tak merasa ngantuk ? atau kau tak merasa lelah, setiap hari bekerja ? mulai dari beduk subuh di tabuh hingga senja tenggelam ? 

Ayah . . . aku sayang padamu, bagi aku kau adalah laki-laki terhebat sepanjang kehidupanku. Meski terkadang aku selalu kesal padamu karena kebiasaan ayah yang membuatku terluka. Saat ayah tiba ke rumah, perlu ayah tahu, semua orang di sini merindukanmu ? tapi ayah lebih memilih untuk main di luar sana, entah apa yang dilakukan ? aku khawatir kau kenapa-napa. Namun seiring bertambahnya usiaku, aku bersyukur dan sangat bahagia melihat perubahan ayah yang membuatku bangga, yaitu tidak lagi main waktu malam, berhenti meroko bahkan minum kopi pun enggan, terimakasih ayah sudah menjadi apa yang aku harapkan, dan maafkan aku belum bisa seperti apa yang kau dambakan.

Ayah . . . aku tahu , hampir 8 tahun aku tak tinggal bersama keluargaku termasuk ayah, karena aku harus berjuang untuk menggapi mimpiku disini. Dari jauh bisaku hanya mendoakanmu, semoga kau panjang umur, sehat selalu dan di lindungi Allah dalam setiap perjalananmu. Saat aku benar-benar membutuhkan uang untuk keperluan kuliahku, kau selalu memberikannya untukku tanpa perlu mamah tahu, karena ayah ingin aku terlihat bahagia. I Love You .

Ayah . . . dengarkanlah aku, dalam setiap heningnya malam aku selalu merindukanmu, rindu yang tak berujung dengan pertemuan, hanya sebuah komunikasi via handphone yang membuatku merasa tenang. Sejak kecil kemanapun kau pergi, pasti aku selalu di ajak, saat kau bekerjapun aku selalu ikut, bahkan kau selalu memandikanku setiap hari ? kau ingat kan ? kala itu usiaku masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Tapi, seiring bertambahnya usiaku, bertambah juga usiamu. Dulu rambutmu hitam, sekarang sudah mulai tumbuh uban, dulu badanmu terlihat kekar, sekarang sudah mulai terlihat renta, segala rasa sakit pada tubuhmu mulai terasa, tapi satu hal yang tidak pernah berubah dari ayah, yaitu kasih sayang yang ayah berikan padaku tetap sama, meskipun sekarang aku sudah tumbuh dewasa.

Maafkan aku ayah, belum bisa memberi apa-apa hanya bisa meminta, aku belum bisa menghasilkan yang ada malah menghabiskan, tapi aku janji, aku kuliah dengan serius ko yah, sampai aku bisa mendapatkan beasiswa yang begitu besar dan sangat berharga. Doakan aku ayah, semoga aku bisa mengangkat harkat dan martabat keluargaku, semoga aku bisa membahagiakan ibu, ayah juga adikku. Doakan aku juga semoga aku bisa mendapatkan rizki melimpah yang halal dan manfaat, terakhir doakan aku semoga aku menikah dengan laki-laki pilihanku yang sudah aku kenalkan pada ayah waktu itu, aamiin. 

Tasikmalaya, 16 Juni 2019
Tika Marwati

Post a Comment for "Rindu Ayah"