Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Dongeng Cerita Anak : Si Buaya, Kancil dan Kafibara

Oleh Haji Pidi Baiq
Nb: Timur adalah nama anak pertama dari H.pidi baiq

Timurku. Dalam perjalanannya mencari penghidupan baru, seekor kancil bertemu dengan sebuah sungai. Di saat mana ia sedang menimbang-nimbang cara agar bisa menyebrang, dua ekor buaya tiba-tiba muncul ke permukaan air dan meloncat, salah satu buaya mencaplok salah satu kaki depan si Kancil.
Lepaskan!! Si kancil menjerit-jerit. Meronta-ronta. Minta hidup. Minta Hidup.
Dia lapar! Kata buaya temannya, yang sekaligus penerjemah.
Iya tapi jangan aku. Jangan aku
Jangan dia katanya kata si buaya penerjemah kepada buaya yang sedang mencaplok kaki si kancil
wau?
Kenapa katanya
Bilang aku tidak enak. Aku punya gantinya buat dia kalau mau
Si buaya penerjemah menjelaskan kepada temannya. Lalu katanya kepada kancil, Masa? katanya
Serius. Lebih besar dan enak
rogo kro, roah groho
Berikan sekarang juga, katanya, dia sangat lapar
Lepaskan kakiku. Aku butuh kakiku buat jalan mengambilnya
Si Buaya Penerjemah menjelaskan kepada buaya temannya itu. Terjadi diskusi yang lumayan serius.
Grok trondo kancil lordego, soso
wero?
Logra goroho
Wor!!
Graho hogero
Hasil diskusi menyebabkan si Buaya yang sedang mencaplok kaki si kancil akhirnya melepaskan caplokannya,
Horde, boro loa
Awas, jangan bohong
Tidak bohong. Aku punya daging sapi yang sangat besar
Hoe poro?
Iya, mana?
Bagusnya kamu panggil dulu teman-temanmu
Loge huro oru toho terotero
Wauha?
Mengapa? kata si Buaya Penerjemah
Daging sapinya besar sekali. Sapi Super. Tidak akan habis kau makan sendiri!
worte, oru goha wakokoko
Rododo!
Ronaldo? Tanya si Buaya Penerjemah
Yee, Rododo!! Rodooo goru gopo
Oh
Oke..baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar, ya kata si Buaya Penerjemah kepada si Kancil. Kedua buaya itu girang sekali, Timur, kedua buaya itu senang sekali. Keduanya lalu menyelam. Berenang ke berbagai arah untuk memanggil teman-temannya. Tidak lama kemudian, kedua buaya sudah lagi kembali bersama teman-temannya.
Anjing, capek euy. Mana dagingnya, Cil? kata si Buaya Penerjemah
Banyak sekali temanmu? Ada berapa sih?
Berapa ya? Si Buaya Penerjemah menengok ke arah teman-temannya.
Biar aku hitung dulu. Takutnya kurang. Boleh aku hitung?
Boleh. Boleh
Kemudian para Buaya itu, Timur, masing-masing mengatur diri untuk berjejer. Air sungai dicampuri air liur. Di tepi sungai, si Kancil memberi mereka senyuman. Ada suara kecibak air karena gerakan sibuk tubuh mereka. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sudah selesai membuat barisan.
Silakan, Cil! kata si buaya penerjemah
Nah, waktu si kancil siap melompat untuk menghitung, tiba-tiba dari jauh nampak ada satu ekor buaya yang bergegas datang terlambat. Usianya sudah lebih tua daripada yang lain. Bahkan lebih tua dari Opa.
Pak Tua, mari bergabung untuk dihitung! Kata si buaya penerjemah, Ada Daging Sapi Bagian dari si kancil!
Buaya Tua itu berkata, tentu pakai bahasa buaya, Dasar kalian semua buaya tolol!
Heh, mengapa datang-datang kau berang?
Apa kalian tidak pernah denger dongeng si kancil yang cerdik? Buaya Tua membuat semua buaya memasang roman muka bertanya,tentang bagaimana dahulu bapak si Kancil menipu nenek moyang kita? Si Buaya tua menatap dengki kepada si Kancil. Sekarang dia. Dia pasti mau mengulang trik yang sama sebagaimana bapaknya dahulu. Disuruhnya kalian berjejer untuk dihitung. Asal kau tahu, wahai kaumku, sesungguhnya tak ada daging sapi padanya. Dia hanya bermaksud menipu kalian dengan berpura-pura menghitung jumlah kalian, kelak bila sudah sampai di hujung hitungan, dia akan meloncat lari dan pergi. Wahai kaum buaya sadarlah, tidakkah kalian mau belajar dari pengalaman?
Benar, engkau benar! Kami mendengar dongeng itu dari nenek moyang kami. Wahai alangkah lalainya kami ini jawab para Buaya. Serta merta roman muka buaya berubah menjadi murka. Mereka bergerak maju untuk menyerang si Kancil.
kenapa? tanya si kancil kepada si buaya penerjemah. Si buaya penerjemah menjelaskan apa kata si buaya tua.
Dia adalah si Kancil itu. Binatang simbol kecerdikan, Teriak Si Buaya Tua lagi,.Sekaligus kelicikan!!! Hentikan hidupnya! Si Kancil menjadi panik untuk bagaimana cepat cari selamat. Betapa dia sudah nyaris terkepung buaya.
Hai! teriak seekor Kafibara yang tiba-tiba datang lari mendekat,Ada apa ini?
Rora rau? Tanya Buaya Tua
Gak ngerti kata Kafibara
Siapa kau! Kata Buaya Penerjemah.
Aku. Kafibara
Gero naraturoho kroko togo?
Gerangan apa yang menyuruhmu agar kami berhenti?
Siapa yang menyuruh kalian berhenti? Apa kuasaku bisa menghentikan kalian. Lain itu Si Kancil bukan pula keluargaku. Aku berlepas diri dari nasib si Kancil, tapi bolehkah aku bertanya sebab apa kalian mau membunuhnya? Mudah-mudahan menjadi pelajaran bagiku
Jangan terlalu cepat ngomongnya! Aku gak ngerti kata si Buaya Penerjemah
Gini. Aku gak nyuruh kalian berhenti, mengerti? Cuma pengen tahu kenapa kalian mau bunuh si Kancil?
Loho hosopo korotooko nohaaha. Torogoha koolohe! Kata si Buaya Penerjemah kepada si Buaya Tua.
Puah! Si Buaya Tua meludah,
Puah! Si Buaya Penerjemah meludah.
Raaau. Torodooo hura koomo sooh
Sok manusia kau ini, pake tanya segala? Kata si Buaya Penerjemah
Bukan begitu..
Si Buaya Tua berkata kepada si Buaya Penerjemah lalau kata si Buaya Penerjemah kepada si Kancil:
Sudah diam! Baik aku jelaskan dengan singkat, supaya lekas kau bisa pergi, kecuali kau benar-benar mau kami jadikan makanan penutup! Hai Kafibara makanan favorit Anakonda, Ini dia si Kancil itu. Dia mau coba tipu kami untuk menyebrang. Dia mau tiru akal bapaknya. Tapi, demi suara jelek Keledai, kami tak akan lagi bisa tertipu!
Oh itu, kata si Kafibara,Hei Kancil, kenapa pula kamu mau tipu mereka?
Kafibara! Goro soohoho loha si Kancil horso dogo Kata si Buaya Tua
Kafibara!! Lekas kau pergi katanya, biar kami santap si Kancil ini, Salah seekor buaya bergerak maju. Si Kancil berlari ke balik tubuh Kafibara.
Sabar, sabar, coba belajar untuk tidak mengedepankan emosi!
Aaah. Laha norosoho gore roherdo
Aaah. Binatang selalu mengedepankan emosi, Wahai kafibara!
Seenak apa pun makanan, apa nikmatnya jika kau makan sambil marah. Tenang! kata si Kafibara, lalu lanjutnya kepada si Kancil, Kancil, engkau ini lagi, kenapa harus bilang punya daging sapi padahal tidak? Apa kata anak-anak manusia nanti kalau mereka tahu ternyata tokoh dongeng teladannya berbohong dan melakukan kelicikan demi meraih kemenangan pribadi? Si Kancil diam saja. Lalu menangis. Nah, Buaya, kalian sudah menjawab pertanyaanku, sekarang terserah kalian mau kau apakan si Kancil, tapi boleh aku minta waktu sebentar? Aku ingin menawarkan sesuatu pada kalian
Si Buaya Penerjemah menerjemahkan kata-kata si Kafibara kepada si Buaya Tua
Apalagi? katanya
Aku ingin menebus si Kancil ini dengan bison-bison gemuk yang sedang merumput di seberang sana
Roha goro dohookoo lohosa, bison-bison dohe hota! kata si Buaya penerjemah kepada teman-temannya. Lalu para buaya pun menengok ke arah bison-bison yang sedang berkumpul merumput.
Bagaimana? Tapi terserah kalian lah. Kalian bisa mendiskusikannya lebih dahulu. Mudah-mudahan aku termasuk orang yang sabar menunggu keputusan kalian
Buaya Penerjemah menerjemahkannya kepada Buaya Tua dan kepada yang lainnya yang kini sudah berkumpul dekat Buaya Tua. Ada banyak suara saling memberi pendapat di antara mereka. Cukup lama, tapi kemudian si Buaya Tua dan Buaya Penerjemah mendekati Kafibara. Buaya Penerjemah berkata: Wahai Kafibara, ambillah si Kancil itu bersamamu!
Sip!
Sekarang, bagaimana cara kami mendapatkan bison-bison itu?
Terimakasih. Bolehkah kalian bergeser, biar aku mau menyebrang ke sana
Apa kau bisa menyebrang?
Tentu tidak. Tapi apa boleh buat, kalian sudah menjatuhkan pilihan sehingga aku berhutang bison-bison itu kepada kalian. Lagi pun kalau aku harus mati hanyut demi memenuhi janji, tentulah aku ini mati sebagai binatang terpandang!
Gore goro doho korooto? Kata si Buaya penerjemah kepada Buaya Tua.
Doorogo koroso hogo!
Biar kami bantu menyebrang! Kata si Buaya Penerjemah kepada Kafibara
Terimakasih banyak, kalian rekan bisnis yang baik, tapi si Kancil sudah milikku. Aku harus membawanya serta
Heh doro gohegohe sogohoko bison-bison gora? kata si Buaya Tua kepada si Buaya Penerjemah.
Sebentar, wahai Kafibara, bagaimana cara kau mendapatkan bison-bison itu?
Aku bisa bilang kepada mereka sungai ini aman dari buaya sehingga mereka segera berhamburan untuk minum
Doro gorokoo korosa dogo?
Bagaimana mereka percaya kepadamu, wahai Kafibara?
Aku bukan buaya!
Ya, benar Sahut salah seekor buaya termuda yang ternyata bisa bahasa Kafibara sedikit-sedikit.
Nah sesampainya mereka di sungai untuk minum, terserah kalian mau kau apakan!
Togoro kohootooro domoso hego. Soge rohoge! Kata Buaya penerjemah kepada semua buaya!
Setuju Jawab para buaya.
Timur, Si Kancil dan Kafibara itu pun naiklah ke atas punggung buaya. Dibawanya mereka menyebrang.
Nah panggillah mereka kata Si Buaya Penerjemah ketika sudah sampai di seberang.
Oke, sabar menanti kata si Kafibara sambil meloncat bersama si Kancil. Si Kancil dan si Kafibara berlari ke arah tempat kaum bison merumput. Kafibara berkata kepada Si Kancil:
Kancil, kamu pasti tahu aku tidak akan pernah menganjurkanl bison-bison ini untuk minum di tepi sungai,
Kenapa kamu boleh berbohong!
Tidak masalah denganku. Aku bukan Public Figure seperti kau
Tapi kenapa ayahku berhasil menipu mereka? tanya si kancil.
Dulu belum sampai kepada buaya pengetahuan, kata si Kafibara.
Sementara itu para buaya sudah mulai kesal menunggu bison bergerak ke tepi sungai.
Kafibara. Gore Horsuato suhar! Teriak Pak Buaya
Kafibara!!! kau berdusta! Teriak Buaya penerjemah.
Sudah aku sampaikan, tapi mereka tidak mau! Teriak Kafibara dari balik kerumunan bison.
Buaya-Buaya itu dongkol. Buaya-buaya itu lapar dan mengangakan mulutnya. Buaya-buaya itu bergerombol di tepi sungai. Terus bergerombol sampai bisa kau lihat sekarang. Demikian Timur, dongengnya.

Post a Comment for "Dongeng Cerita Anak : Si Buaya, Kancil dan Kafibara"