Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Jeritan Nurani


Detik jam dinding yang terpajang di kamarku begitu konstan mengalahkan detak jantung yang berdetak. Beribu terimakasih aku ucapkan untuk laki-laki yang selalu sabar menghadapiku, selalu ikhlas menyayangiku, selalu semangat membangunkan tahajud dan subuhku, selalu setia menemaniku kemanapun aku ingin pergi, dan tak pernah bosan bahkan seharipun berhenti untuk selalu menasihatiku. Tapi apa yang aku lakukan terhadapnya ? selalu tak mendengarkan, selalu melawan, selalu keras kepala bahkan selalu marah. Maafkan atas sebuah kesalahan yang pernah aku ciptakan.

Waktu terus saja merangkak maju, tapi diri tak pernah ada kemajuan dan perubahan sedikitpun, masih sama seperti ini, diri ini yang selalu seperti ini dan ingginnya begini. Aku harus apa ? mencoba memperbaiki tapi hanya bertahan dalam waktu sementara tak bisa ajeg dan menetap. Hubungan kita menginjak genap dua tahun, aku merasa selama ini kamu terlalu baik untukku, sedangkan aku ? belum bisa menjadi seperti apa yang kau harapkan ? aku selalu menuntutmu untuk mengikuti inginku tapi tidak sebaliknya.

Banyak alasan yang selalu aku buat, tapi aku benar-benar ingin menjaga hubungan kita meski terkadang hati ngotot untuk berhenti sampai disini, aku tak tahu, apakah aku siap kehilanganmu ? atau aku tidak siap untuk kehilanganmu ? aku belum tahu. 
Perlakukan keluargamu terhadapku begitu ramah dan menyejukkan tapi maaf sikap keluargaku tak seperti apa yang dilakukan keluargamu terhadapku. Mungkin sampai saat ini pikirmu mengganjal tentang sebuah alasan kenapa kamu tidak boleh ke rumahku ? aku hanya ingin menjaga dan aku tidak ingin tetangga itu membicarakanmu, karena ini belum waktu yang tepat untuk kamu ke rumahku.

Malam ini aku ingin mengucapkan sebuah kata perpisahan ,aku tak bisa bertahan dengan laki-laki sebaikmu, namun hati kecil merintih nangis kesakitan bahwa aku tidak sanggup kehilanganmu, di tambah dukungan seorang papa yang tiba-tiba menanyakanmu, pikirku aneh. Papa saja menanyakan kabarmu, menanyakan tentangmu, tapi kenapa aku selalu menghalangi niat baikmu untuk silaturahmi ke rumahku ? entahlah apa yang sebenarnya terjadi denganku ini ? aku bingung.

Aku minta maaf atas sikap egosiku yang berlebihan, aku selalu mementingkan perasaanku tanpa sedikitpun memikirkan perasaanmu. Mulai dari sekarang aku akan belajar untu tidak hanya sekedar mengerti tapi memahami. Aku pun tidak akan melarangmu jika kamu ingin datang ke rumahku.


Tasikmalaya, Mei 2019
Tika Marwati

Post a Comment for "Jeritan Nurani"