Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Waktu yang Tak Pernah Salah

Waktu yang Tak Pernah Salah
Tika Marwati

Sebuah penantian disertai kesabaran ternyata memberikanku bukan setengah kebahagiaan, melainkan memberikan kebahagiaan seutuhnya. Perjalananku mendapatkan seseorang yang aku sayangi tak semudah dengan apa yang aku yang bayangkan. Kala itu aku pernah merasakan bagaimana rasanya mengejar cinta, kala itu aku pernah merasakan bagaimana rasanya menunggu sebuah jawaban, kala itu aku pernah merasakan sakitnya ruang hati ketika kamu hanya datang dengan waktu yang begitu singkat, kala itu aku pernah merasakan sesaknya nafas disaat kamu menjauh dariku dan mendekat dengan sahabatku, kala itu aku pernah berprasangka bahwa waktu tak pernah adil kepadaku. Namun, sesakit apapun luka yang ada dalam ruang hatiku, seberapa dalam kamu menggoreskannya aku masih terus disini, tak sedikitpun melangkah meskipun itu satu langkah, aku masih disini dengan kesetiaanku yang menunggu jawaban pasti darimu, karena aku tahu waktu tak pernah salah, hanya sebuah kesempatan saja yang belum berpihak padaku. Kupandangi jam beker yang ada diatas meja belajarku, ku lihat jarum merah yang berdetik bersamaan dengan detakku, ku tatap kalender yang terpajang pada dinding dekat pintu kamarku, ku lihat tanggal dan hari begitu cepat berganti senin, selasa rabu hingga tak terasa kembali pada senin.

Aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan, haruskah aku pergi, meninggalkan semua kenangan yang pernah ada diantara kita, meskipun kenagan itu hanya terukir menjadi sebuah syair-syair mesra dan konyol melalui pesan singkat, dan melodi perpaduan antara suaraku dan suaramu melalui teleponan sepanjang malam, entahlah aku masih mengingatnya. Maaf aku tak pernah berani membuka hati untuk orang lain, aku tidak apa apa, aku tidak kenapa-kenapa dan aku baik-baik saja dengan penantian yang tak pernah berujung.

Detik mampu aku lalui, hari mampu aku lewati, bulan mampu aku hindari sampai tahunpun aku sanggup menunggu kamu. Menunggu kamu kembali bersamaku.
Di akhir batas penantianku.. kamu hadir tepat dipenghujung agustus dengan keseriusan mu menjalin komitmen untuk tetap berada bersamaku. Kala itu aku tidak peduli seberapa besar luka yang pernah tertanam dalam ruang hatiku, yang aku pedulikan hanyalah ketulusanmu.

Waktu yang tak pernah yang salah, hingga pada akhirnya sebuah penantianku dalam waktu beberapa bulan memberikan sebuah jawaban. Yaitu kepastian tentang dirimu yang tiba-tiba datang padaku, menjalin hubungan dengan restu orangtuaku dan orangtuamu, aku berharap kebersamaan kita tidak akan pernah terhenti sampai disini melainkan sampai kita bisa bertemu disyurga nanti.

Post a Comment for "Waktu yang Tak Pernah Salah"