Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Bukan Perihal Jarak dan Dekat


Agustus 2017, semesta dibulan sebelumnya begitu cerah, lalu seketika kala kita tengah berada pada keputusan untuk saling merelakan, semesta menangis seolah tahu apa yang aku dan kamu rasa. Bukan tentang lamanya hubungan,  melainkan tentang  waktu kenyamanan dalam hubungan. Berhentilah untuk saling menyalahkan.
Aku berharap tidak ada penyesalan setelah aku mengambil keputusan, aku meminta apapun kecuali satu hal penyesalan. Hubungan adalah menyatukan kedua insan untuk saling merekatkan bukan untuk saling meretakkan, untuk saling membahagiakan bukan saling mengecewakan, untuk saling menerima perbedaan bukan mencari persamaan. Aku tahu, aku pembuat luka disini, akulah dalang dari sebuah perpisahan yang sudah aku susun jauh-jauh hari, aku juga tahu, akulah yang memulai untuk mengakhiri hubungan yang sudah lama kita bangun dengan waktu yang tidak begitu singkat, bahkan tidak lagi hitungan bulan melainkan tahun. Empat tahun kita berada dibawah menara yang sama, kita berada pada zona yang sama, bercanda, tertawa, bahagia, sedih, terluka, susah dan senangpun kita masih tetap rekat.
Tak pernah ada keadilan pada perpisahan, aku tahu itu, hanya penerimaan yang bisa membuat kamu tenang, percayalah. Aku meninggalkanmu karena sebab dan sebab itulah yang berakibat aku harus meninggalkanmu. Maafkan aku, jika aku menggores hatimu dengan keputusanku, namun tahukah kamu, aku tidak pernah ada sedikitpun untuk berencana menyakitimu, hanya waktulah yang mampu menjawab tentang sebuah rencana yang tak pernah aku siapkan sebelumnya.
Kala itu, perdebatan antara logika dan hati sudah tak searah, tak sejalan, tak sinkron bahkan sulit untuk dihentikan. Satuhal yang perlu kamu tahu, hanya ada satu bagian dalam tubuh kita yang tak pernah bisa untuk berbohong, tak pernah mampu diterka bahkan dipaksa, yaitu tentang sebuah rasa dan rasa itu berada pada ruang hati. Melalui tulisan ini, aku berharap celotehan isi hati dapat tersampaikan kepadamu, pada tulisan ini aku akan bongkar semua isi hatiku yang terkuak dalam hati, membelenggu bersama emosi.

Maaf lagi, hanya ada kata itu yang aku punya. Saatnya aku jujur sama kamu tentang alasanku mengakhiri hubungan kita. Sebenarnya dipenghujung akhir masa putih abu, aku sudah mau bilang dan mengatakan putus, aku sudah ingin sekali untuk mengakhiri hubungan ini, tapi apa daya hatiku belum sanggup dan siap. Aku harus menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini.
Dimasa aku terbebas dari seragam putih abu, saat itu aku dan kamu berada diawal perkuliahan, dengan terpaksa aku harus memberanikan mengungkap semua rasa yang ada dalam hatiku, hingga pada akhirnya aku melontorkan kalimat perpisahan pada sebuah pertemuan, tapi kala itu kamu menolak, dan aku tak mungkin untuk mengambil keputusan dengan sendiri.
Sebuah awal pertemuanpun kita bersepakat untuk saling bersama, dan aku tak ingin mengakhiri hubungan ini tanpa kesepakatan kedua belah pihak yaitu aku dan kamu, namun aku tetap sabar menunggu kembali waktu yang betul betul tepat untuk mencapai mufakat.
Dengan  berat hati, di pertengahan bulan yang menjadi simbol hari kemerdekaan ini aku mencoba kembali untuk mengungkapkan apa yang aku rasa melalui sebuah chatting. Meskipun kamu tak pernah mau menerima keputusanku, tapi kali ini aku benar-benar perlu bersikap tegas dan berkata jujur tentang perasaan yang sudah lama aku pendam, aku tidak peduli kamu sepakat atau tidak.
Aku tahu, Agustus ditahun 2017 adalah waktu yang menyakitkan untukmu, terlebih kamu yang melihat unggahan fotoku dengan laki-laki pada sebuah akun instagram, kamu marah kan ? kamu kecewa kan ? hingga berkomentar kalimat kasar pada foto itu. Tapi, aku akan lebih mengecewakanmu jika aku tetap bersamamu menjalankan hubungan ini.
Bukan kali kedua, aku minta maaf, tapi kesekian kalinya aku mengatakan hal itu, namun kamu tak pernah mau untuk memaafkan, kamu lebih memilih untuk bermusuhan dibanding pertemanan.
Kamu perlu tahu, aku mengakhiri ini bukan karena orang lain termasuk laki-laki yang waktu itu aku unggah pada akun instagram melainkan karena perasaan yang tak pernah bisa untuk berbohong. Aku menyudahi bukan karena kita sedang berjarak. Kamu selalu saja menerka-nerka berakhirnya hubungan kita gara-gara hal tersebut. Setelah hubungan kita berakhir, kamu selalu menghinaku, menyalahkanku dengan kalimat “wanita tidak berperasa, dan gara-gara jarak, padahal hanya batas Tasikmalaya, Bandung yang masih dalam satu provinsi bahkan bisa ditempuh dengan waktu 3 jam, kamu tega Mita.” Kalimat itu yang selalu menghantuiku. Aku sanggup ko, jika harus menyembunyikan kelelahan, karena mungkin memang selayaknya aku pantas untuk disalahkan, atau bahkan untuk terluka. 
Aku merasa bersalah pada waktu itu, akan tetapi aku akan lebih merasa bersalah jika harus memaksakan hubungan tanpa rasa apa-apa. Saat kita berdekat aku tak pernah lagi merasa nyaman dan aman, pada saat kita berjarak pun aku tidak merasa rindu yang membelenggu, hatiku tak seperti dulu lagi, rasanya hambar sama halnya seperti sayur tanpa garam dan gula. Apa kamu masih mau untuk memakannya ? Kalau aku sih tidak.

Maret 2019

Post a Comment for "Bukan Perihal Jarak dan Dekat"