Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Luka di Pembuka Februari


Penghujung Januari kamu tidak membiarkan aku meneteskan air mata sedikitpun walau hanya seperempat  tetes, kamu selalu menjaga rasa diantara kita, namun di pembuka Februari kamu memberikan aku sebuah luka, luka yang menjadikan air mataku meneteskan lebih dari sejuta kali tetes. Bisa dibayangkan berapa banyak air mata yang aku keluarkan hanya untuk menangisi sebuah luka?. Terkadang cinta itu membuat aku bahagia hingga pada titik sangat bahagia sampai aku tidak sadar bahwa dunia ini fana, namun tidak menutup kemungkinan cinta juga ternyata bisa membuat aku terluka lalu sakit sampai aku kesulitan cara untuk menyembuhkannya.

Aku hanya seorang wanita biasa, sama seperti wanita lainnya. Kadang aku bisa kuat melebihi kekuatan karang yang tersapu ombak,  kadang juga aku lemah melebihi lemahnya daun kering yang tertiup angin. Itulah wanita, hatinya sangat rentan  jika tersakiti.
Hubunganku denganmu sudah berjalan lebih dari satu tahun, aku selalu memaklumi setiap perdebatan yang terjadi diantara kita, terlebih yang disebabkan olehmu, begitupun sebaliknya. Kita selalu saling mengerti bukan? selalu terbuka apapun topik permasalahannya, namun ada satu hal yang membuatku sakit di pembuka Februari ini, yaitu kamu menutupi hal yang menurutku itu penting. Kecewa, jelas aku kecewa sampai sore tadi aku sulit untuk berkata apa-apa, hingga akhirnya saat aku pulang ke rumah, baru menangisi semua luka yang aku rasa. Mungkin jika tanganku tertusuk duri, luka itu jelas akan nampak dan terlihat oleh mata sehingga mudah untuk memberikan obat yang harus digunakan untuk menyembuhkannya, bagaimana jika luka itu berada pada bagian perasaan, tidak semua orang dapat melihatnya, termasuk kamu karena luka pada bagian perasaan itu kasat mata. Jujur, aku merasa akhir-akhir ini kamu berbeda, kamu tidak pernah bilang apa apa perihal ini, kamu menawarkan kerjasama dengan seorang wanita dan aku tanpa tahu apa-apa, yang ada kamu malah memuji wanita itu dan memperlihatkannya kepadaku. Lalu aku dianggap apa ? meskipun  tadi aku sempat meminjam pundakmu, tapi aku bukan benalu, aku wanita yang saat ini dekat denganmu.

Sebelumnya aku tidak pernah kecewa sampai sedalam kecewa saat ini, aku benar-benar kehabisan logika untuk mengatasi semua masalah yang ada diantara kita.
Aku Tika, aku masih punya rasa dan cinta. Aku berharap kamu bisa lebih menghargaiku agar aku tahu bagaimana caranya untuk bisa lebih menghargaimu. Bagaimana bisa, aku menyelimuti luka yang ada dalam hati? Sedangkan tadi kamu bercerita seenaknya seolah aku ini bukan siapa-siapa dalam perjalanan kisah hidupmu.

Aku lelah untuk melanjutkan kisahku bersamamu, jangan hanya karena kata “Cuma” kamu menganggap itu biasa dan aku dianggap baik-baik saja seolah tidak ada apa-apa. Meskipun cuma sedikit, cuma sebentar atau apapun itu tetap kata cuma itu memberikan aku luka. Aku juga tahu, selama ini aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu, tapi aku selalu menjaga jarak dengan laki-laki apapun bentuknya.

Tika Marwati

Post a Comment for "Luka di Pembuka Februari"