Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Aku Tanpa Kamu, Rabu dengan Hujan, Kakek Tanpa Kaki



Terakhir kali aku, kamu dan hujan bertemu bahkan kita bersama yaitu disaat senja mulai terkubur oleh gelapnya gulita, terjeda dengan waktu satu hari yaitu rabu, aku hanya seorang diri berjalan menuju keramaian, dari kampus menuju tempat cuci matanya umat manusia, yaa Jalan Haji Zaenal Mustofa itulah nama terkenal yang ada di Tasikmalaya.

Aku berjalan tepat ketika mentari diatas kepalaku, perjalanan yang begitu melelahkan hingga akhirnya aku berhenti sejenak ditengah-tengah perjalanan tepatnya di dekat kerumunan abang beca, setelah kurang lebih 4 menit aku terhenti disana, barulah aku melanjutkan perjalanan agar sampai ke tujuan, ke jalan Haji Zaenal Mustofa, perjalanan dengan hanya mengandalkan ketangkasan kedua kakiku diperlukan waktu kurang lebih 40 menit, dan itu membuatku tersadar betapa beruntungnya aku diberikan kaki yang dapat menjadi pondasi bagi tubuhku dan mengikuti setiap arah langkah dan tujuanku, kemanapun aku mau.

Perjalananku tak seberapa dengan abang-abang penjual siomay, cilok, batagor yang entah sudah berapa meter dan mengahbiskan berapa menit untuk menawarkan jualannya, entah berapa kali mereka memukul pentungan yang menjadi bel pertanda dagangannya, dan entah berapa beratnya mereka harus menanggung tanggungannya itu.
Maka tak pantas jika seandainya aku terlalu mengeluh dengan perjalananku ini, tak pantas jika aku terus menerus berbalut dengan kekesalan, karena pada saat itu kamu tak ada bersamaku.

Aku mulai bosan dengan perjalanan cukup jauh menurutku, tiba-tiba di perempatan jalan tentara pelajar semesta mengirimkan bulir-bulir bening dengan begitu derasnya yang disebut dengan hujan, pada saat itu tak ada tempat untukku berteduh dan berlabuh aku harus memaksakan untuk tetap berjalan agar tiba di jalan Haji Zaenal Mustofa. Meskipun disepanjang jalan kiri dan kanan dipadati ruko-ruko namun tak ada ruang untukku berteduh, akhirnya aku masih memaksakan berjalan bersama derasnya hujan.

Aku menengok ke belakang, siapa tau ada abang beca atau siapapun itu yang mau membantuku dan mengantarkanku ke jalan tersebut, saat aku terus berjalan dan memaksakan ternyata tak ada satupun yang berlalu lalang selain motor dan mobil.

Setelah kurang lebih 30 menit aku berjalan, keramaian dan suasana jalan Haji Zaenal Mustofa sudah mulai terasa bahkan aroma khasnya mulai tercium. Aku masih berjalan dengan ketangkasan kedua kakiku ini melewati beberapa ruko, tiba-tiba ketika jalan itu sudah didepan mata, aku harus menyebrang karena tujuanku akan ke atm terlebih dahulu, saat aku mulai menyebrang tiba-tiba di trotoar ada seorang kakek tua berjalan tanpa kaki, kakek tua itu hanya berjalan dengan menggunakan kekutan kedua tangannya, bajunya tak kalah basah kuyup dari bajuku. 

Kebetulan aku dan kakek itu akan menyebrang jalan, saat aku dan kakek itu sudah berada di sebrang jalan tepatnya di koridor toko-toko, kakek itu tiba-tiba berhenti lalu akupun ikut berhenti sejenak, setelah itu aku biarkan kakek itu berjalan mendahuluiku, saat aku perhatikan tak ada satupun yang kakek itu keluhkan, raut mukanya memberikan senyuman meskipun ia hanya berjalan dengan kedua tangannya. Terlihat jelas kakek itu menunjukan kebahagian dalam jiwanya, meski berjalan tanpa kaki, kakek itu tak mengemis dan mengiba.

Sungguh luar biasa, terimakasih tuhan telah memberikan aku kenikmatan yang tak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya. Berjalan di aspal panas maupun dingin tanpa alas apapun bahkan bukan dengan kekuatan kaki melainkan kedua tangan yang digunakan untuk membantu melangkah untuk mencapai tujuan. Mari bersyukur.

Tasikmalaya, Februari 2019
Tika Marwati

Post a Comment for "Aku Tanpa Kamu, Rabu dengan Hujan, Kakek Tanpa Kaki"