Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Aku, Kamu dan Hujan

Cerah Telah Pergi Tibalah Gulita. Bukan hanya sekedar gerimis melainkan hujan deras.
Catatan dariku untukmu yang telah mengantarku pulang.

Tasikmalaya, Februari 2019


Sosok malaikat yang tuhan kirim untuk melengkapi hidupku melalui wujudmu yang sudah setia menemani setiap jalan cerita hidupku selama kurang lebih dua tahun, memberikan warna melebihi mejikuhibiniu, memberikan kebahagiaan melampaui batas jingganya senja. Kamu hadir dalam hidupku, tanpa aku meminta sebelumnya. Mungkin tuhan yang lebih tahu tentang dirimu yang dipertemukan denganku.

Satu hal yang pernah aku tahu, satu hal yang tak pernah aku duga dan satu hal yang tak pernah aku rencanakan, yaitu kehadiranmu , tentang hadirnya dirimu yang menjadi pelengkap bumbu masak kehidupanku, tentang hadirnya dirimu yang mampu meramu obat untuk mengobati segala penyakit dalam tubuhku, tentang hadirnya dirmimu yang mengajarkan arti senyuman dan kesederhanaan. Bayanganmu yang selalu menjadi topik pada setiap kali jemari bermain dengan setiap huruf pada keyboard leptopku.

Aku bersykur, karena tuhan telah memberi kesempatan padaku untuk lebih jauh mengenalmu, aku tak hanya sekedar ingin, melainkan semoga, semoga kamu bukan hanya sekedar saat ini, tetapi sampai nanti, waktu nanti sampai kita mati.
Hujan, panas kamu selalu berusaha hadir menjemputku dan mengantarku pulang, padahal aku tahu tugasmu banyak, padahal aku tahu kamu begitu lelah, tapi aku heran kenapa kamu selalu ada untukku ? bahkan aku merasa dalam kamus hidupmu tak sedikitpun mengenal kata lelah untukku.

Hebatnya kamu adalah kamu tak pernah marah saat harus menungguku lama di pintu gerbang utama kampus, kamu selalu tersenyum meskipun aku selalu telat, padahal aku tahu malam tadi hujan begitu deras, kamu selalu sabar menghadapiku, sedangkan aku? aku hanya bisa marah, aku selalu kalah dengan rasa egoku, aku selalu marah saat kamu terlambat menjemputku pulang, bahkan tak sedikitpun memberikan senyuman untukmu.

Malam ini terasa singkat, saat tiba-tiba udah sampai didepan rumahku, lalu kamu pergi dan aku masuk rumah, maaf tak ada bahasa untuk mempersilahkan kamu masuk. Terimakasih sudah mengantarku pulang bersama hujan.

Tika Marwati

Post a Comment for "Aku, Kamu dan Hujan"