Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Catatan Malam



Dalam keheningan bersama malam, aku duduk seorang diri menepi bersama angan-angan mimpi. Sepi tiada henti, menanti keniscayaan yang tak berujung pasti, aku masih setia dengan segelas kopi yang tak sedikitpun aku nikmati.

Malam ini aku ingin bercerita tentang rasa yang tidak pernah mati. Rasa yang selalu ada menyelimuti meski hati sempat terluka berkali-kali, namun anehnya rasa itu tidak sedikitpun beranjak dari hatiku yang selalu menyebut namamu dalam setiap waktu. Bagi aku, meskipun kita bukan lagi kata yang memiliki makna bersama, tapi ijinkan aku untuk selalu menjadikan kamu sebagai kata pelengkap kita, karena aku tidak bisa menjadi kita tanpa kamu. Entah apapun tanggapan kamu yang jelas aku masih memerlukan waktu untuk benar-benar melupakanmu. Jujur, buat aku kamu adalah satu-satunya orang yang selalu bisa membuatku tersenyum sendiri saat aku hanya memandangi handphoneku, kamu adalah satu-satunya orang yang selalu membuatku kuat di saat ombak kehidupan menerpaku, dan kini kamu pergi tanpa meninggalkan alasan jelas. Keputusanmu untuk meninggalkanku itu menjadi hal sangat berat, aku tidak sanggup karena rasa ini memang benar-benar tidak pernah mati.
Waktu masih berjalan konstan, tak pernah menjadi lambat ataupun sebaliknya, jarum jam selalu setia pada detik jam seperti halnya detak jantung yang selalu berjalan beriringan dengan denyut nadi yang mengalirkan darah pada tubuh, aku masih dengan perasaanku yang sama perasaan yang tidak pernah mati untuk selalu menyayangi.
Kamu tahu, luka yang kamu goreskan tidak menjadikan aku untuk membenci, aku selalu mencintai meski kamu selalu menyakiti. Ribuan bahkan ratusan kepingan hati yang telah berhamburan seperti debu yang berterbangan aku dalam diamku masih selalu merindukanmu disetiap waktu. Saat aku tahu, ternyata alasan kamu meninggalkan aku hanya karena sahabatku, aku benar-benar diam dengan seribu kata dalam hati yang aku simpan rapat-rapat dalam relung jiwa. Aku sakit mendengar kabar ini, tapi apa dayaku, aku hanya seorang perempuan yang hanya menyimpan rasa pada laki-laki yang tidak pernah menghargai. Aku hanya seorang perempuan yang mencoba untuk sabar meski ujian hadir dengan silih berganti. Aku hanya seorang perempuan yang memiliki harapan besar untuk menjadi milikmu meski kenyataan pahit sudah aku telan dengan penuh ketulusan. Namun, doaku masih sama hanya tertuju untukmu, aku panjatkan segala yang terbaik untukku dan juga untukmu. Mencoba mengikhlaskan kepergianmu dengan tetap berdiri kokoh seperti pondasi pada sebuah bangunan.
“Semoga satu waktu nanti, entah kapan baik dalam alam mimpi ataupun dalam alam duniawi kita bisa bertemu dengan tetap saling sapa, meskipun kamu sudah beristri ataupun aku yang sudah bersuami.”

Post a Comment for "Catatan Malam"