Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Menutup Segala Hal dari Carut Marut Kehidupan, dan Bersyukurlah



Mentari mulai tersenyum memancarkan cahaya, menerangi bumi dan seisinya. otomatis hari berganti dan  waktu yang tak pernah lelah berhenti mengiri setiap perjalanan kisah hidupku. Hari ini aku menuliskan apa yang ada dalam pikiranku, yaitu tentang kata syukur.

Ketika aku bangun di sepertiga malamku, aku menatap dinding langit kamar, yang selalu seperti itu, diam ,sama dan tak pernah berubah. Aku duduk di kursi meja belajar yang selalu menjadi teman baikku, dan aku merenung tentang sebuah kematian.

Aku mencoba untuk tidak diam di situ, ingin sekali beranjak ke tempat lain, namun sayang kekuatan magnet kursi ini lebih besar di bandingkan tempat lainnya.

Hal yang membuatku menangis, yaitu pada saat mataku terbuka untuk pertama kali di hari yang berbeda, dan aku masih di berikan kesempatan untuk melihat, lalu aku berfikir, sekeras kerasnya aku berfikir, bagaimana jika aku tidur setelah itu bangun kembali, dan Allah mencabut kenikmatanku untuk melihat ? lalu bagaimana dengan mereka yang sejak di lahirkan tidak pernah melihat dunia sekalipun. Sungguh ini nikmat yang begitu berharga dan perlu aku syukuri. Saat aku terbangun aku masih mampu mendengar nada alarm handphoneku, dan lagi aku masih di berikan kesempatan untuk mendengar suara merdu adzan yang berkumandang, masih berfikir, bagaimana jika Allah mencabut semua pendengaranku, ini sebuah keajaiban dan nikmat yang harus ku syukuri setiap waktu. Masih dalam keadaan duduk di kursi itu, begitupun dengan pikaranku yang masih mengarah pada anggota tubuh yang masih bisa berfungsi dengan maksimal, mulutku masih mampu berucap, lantas bagaimana jika Allah mengambil semua kenikmatanku dalam berucap ? tanganku masih bisa menggenggam dan berfungsi, kakiku masih bisa aku gerakkan dan masih kuat untuk berjalan, hingga air mata terus saja mengalir meratapi nikmat Allah yang tidak ada batasnya dan lagi aku berpikir bagaimana jika Allah mengangkat semua kenikmatan itu. Apakah aku siap ? apakah aku layak untuk mengeluh, jika semua anggota tubuh masih sempurna dan berfungsi ? aku rasa tidak.

Masih merenung tentang diri ini yang hingga sampai hari ini, detik ini masih mampu berdiri tegap, masih bisa untuk bernafas dan masih bisa untuk berfikir, bagaimana jika Allah mencabut semua itu ? mungkin aku akan berada di bawah tanah dengan pakaian putih seadanya, tanpa membawa perhiasan dan benda lainnya. Coba, masih layakkah untuk mengeluh tentang hidup yang sedang dijalani? Aku rasa tidak.

Saatnya kita berfikir logis, dan memaknai kata syukur. Ucapan sykur itu sangat sederhana, namun terkadang semua orang melupakan kata itu. Padahal kalimat syukur itu menjadi kekuatan  terbesar yang sama halnya dengan senyuman untuk menghadapi segala beban kehidupan.

Mari sejenak merenung, hidup itu bergerak, hidup itu layaknya warna, hidup itu layaknya jalan, dan hidup itu adalah tentang bersyukur. Coba pandangi langit, tak selamanya selalu biru bukan ? tak selamanya selalu cerah, tak selamanya selalu panas,akan tetapi langitpun bergerak, berubah, terkadang langit hitam, terkadang langit hujan, dan terkadang langitpun berubah menjadi senja. Sama halnya dengan kehidupan, tidak selamanya hidup itu selalu bahagia, indah  akan tetapi Allah sengaja turunkan berbagai warna dalam kehidupan semua orang agar kita belajar dan selalu bersyukur.

Akhirnya, aku menemukan solusi. Bahwa masalah bukan hambatan untukku melakukan hal baru, bahwa masalah bukan alasan untukku mengeluh apalagi menyerah, aku menjadikan masalah sebagai kekuatan untuk selalu tersenyum, bersyukur dan terus bangkit meski aku telah menemukan kata lelah.

Semoga setelah membaca tulisan ini teman teman menjadi orang yang selalu tersenyum dan bersykur dari segala keadaan hidup. Karena di dunia ini tidak orang sibuk, karena setiap insane sudah di berikan waktu yang sama 24 jam. Jadi tidak ada alasan lagi untuk mengeluh karena tugas dan mengeluh karena hal lain, tapi bersyukurlah.

Post a Comment for "Menutup Segala Hal dari Carut Marut Kehidupan, dan Bersyukurlah"