Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Maret Menangis




Aku harus selalu mengerti, dan tak pernah di mengerti.

Aku janji, mulai hari ini aku tidak akan pernah melibatkanmu dalam setiap urusanku.
Sebesar apapun masalahku, tak kan ku ceritakan kepadamu.
Seberat apapun  aku menanggung masalanya, tak kan ku bagi kepadamu.
Sesulit apapun masalahku, aku tak kan mengiba kepadamu.
Amarahku yang dari dulu memang tak pernah bisa untuk aku kontrol dan aku kendalikan, rasanya hal itu selalu menjadi perdebatan di antara kita.
Entah apa yang harus ku lakukan saat kondisiku seperti ini, yang jelas inilah yang selalu kulakukan kepadamu.

Aku merasa, kamu adalah orang yang paling dekat denganku hingga aku hanya berani melampiaskannya kepadamu. Namun, lagi dan lagi kamu mempermasalahkan emosiku, sampai aku berpikir bahwa kamu belum mampu menerima aku apa adanya, menerima segala kekuranganku, bahkan kamu belum mampu mencintaiku dengan setulus hatimu.
Sedalam apapun luka hatiku, aku berjanji tak kan menangis di hadapanmu.

Mulai dari sekarang apapun permasalahannya, aku akan memilih diam dan membungkam.
Aku selalu merasa menjadi nomor kesekian di antara list kesibukanmu, lantas apa aku mempermasalahkan hal itu ? Tidak. Kamu yang selalu menolak setiap ajakanku, lantas apa aku marah dan memintamu untuk menerimanya? Tidak. Aku hanya mampu tersenyum, dan masih menyayangimu dan tak kan ku permasalahkan tentang itu. 

Adakah yang lebih sabar dari diri ini yang selalu marah ?

Adakah yang lebih tulus dari hati ini yang selalu menerima kekurangan dan kelebihanmu ?

Adakah yang lebih kuat dari jiwa ini yang selalu berjuang sendiri ?

Rasanya ada, namun aku selalu merasa bahwa itu hanya aku.
Hari ini, mulutku tak mampu berucap, hanya ketulusan hati dan tangan yang berbicara tentang pilunya hatiku.
Terluka kesekian kali, namun aku masih mampu untuk tersenyum.
Seandainya semesta mampu berbicara, ingin rasanya aku berpesan padanya melalui jingganya langit senja itu, katakan padanya bahwa aku tak kan lagi melampiaskan masalahku kepadamu. Biarkan aku sendiri yang bermain dengan masalah itu.

Maaf, itu ucapan tulus dari hatiku.
Silahkan untuk meninggalkanku jika kamu tidak suka dengan sikapku, dan itu ucapan sadar dari mulutku.
Aku menangis, dan itu hal paling tulus .
Aku tak kan membiarkanmu berlayar menjelajahi samudra kehidupanku terlalu dalam, jika kamu selalu mengeluh untuk mendayungnya.
Pergi saja, cari arah lain untuk berlayar yang tidak pernah ada ombaknya.
Hari ini begitu pilu.
Kamu terlalu cepat mendefinisikan emosiku, padahal kamu sudah mengenalku cukup lama.
Kau tahu, malam ini aku ingin bercerita banyak hal, namun sudahlah… tak kan lagi ada cerita.
Terimakasih sudah membuatku untuk berhenti berharap kepadamu.


Tasikmalaya 19 Maret 2018.

Post a Comment for "Maret Menangis"