Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Hidup Itu Belajar




Jika harus ku katakan tentang sebuah perjuangan hidup, mungkin di sini tak akan ada yang mampu mendefinisikan cerita kehidupannya masing masing. Tak pernah ada persamaan nasib, semua telah di sekat sekat sesuai dengan porsi kemampuannya masing masing. 

Hari ini, Senin 19 Februari 2018, rasanya tubuhku mulai melemah, otakku mulai tak mampu bekerja dengan maksimal, emosiku sudah tak terkendalikan, jiwa ini terasa melayang di udara, namun sayang gaya gravitasi mengalahkan imajinasiku, ternyata jiwaku tak sedang melayang, hanya pikiranku saja yang merasa terbang.

Haruskah aku mengeluh dengan debu kehidupan yang membuat mataku kelilipan? Rasanya tak perlu, tapi ketika di rasa itu sakit dan perih namun tak berguna jika harus ku ratapi, karena Allah selalu di sampingku, karena Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya, Allah hanya sedang mengujiku, Allah hanya sedang mengetes seberapa besar kemampuan sabar dan ikhlas dalam diri ini. 

Coba kita pikirkan, bahkan coba renungkan. Seberapa mudah kita mengkritik diri sendiri ? seberapa mudah kita menilai diri sendiri ? dan seberapa mudah kita mengevaluasi diri sendiri ? jawabannya tak mudah bukan ? iya memang karena hal yang mudah di lakukan hanyalah mengkritik, menilai dan mengevaluasi orang lain, bukan diri sendiri. 




Bahkan aku tak habis pikir dengan mereka yang selalu sibuk mengkritik urusan orang lain, ketidaksesuaian sedikit saja, selalu di kritik , tapi coba jika kita perhatikan diri kita sendiri, tak mudah bukan jika harus mengkritik diri sendiri yang selalu menganggap diri ini  benar ?. Di kiritik orang lain saja terkadang kita tak pernah mau menerima yang ada hanya menimbulkan ketidaksukaan dan tersinggung. Begitu mudahnya kita mengkritik seseorang lalu menilainya hanya karena dia melakukan kesalahan dengan seujung rambut saja, tapi pernahkah kita menilai diri sendiri yang masih memiliki banyak kekurangannya di bandingkan orang lain ? belum kan ?. 
Memang benar, menilai diri sendiri dengan kesalahan yang di perbuat itu sangat sulit di lakukan, yang hanya bisa kita lakukan adalah menilai orang lain.  Sangat bodoh saja jika seseorang menilai orang lain dari cerita orang lain. Ayo memperbaiki diri  dari sekarang, dimulai dari pribadi kita sendiri, tak perlu mengurusi orang lain.
Mengevaluasi diri yang memang sulit untuk diperbaiki, tapi mengevaluasi orang lain untuk menjadi seseorang sesuai dengan apa yang kita inginkan begitu mudah di lakukan seperti halnya membalikkan telapak tangan. Kamu boleh mengkritikku dengan sesukamu, boleh menilaiku dengan format penilaian yang kamu buat sendiri, boleh mengevaluasiku dengan caramu sendiri, tapi tak perlu kamu melakukannya di depan banyak orang. Cukuplah aku dan kamu yang tau.

Kita hidup di dunia ini di takdirkan untuk bersosial, dimana harus ada jalinan keluarga, kebersamaan, gotong royong dan rasa kasih sayang yang di di bangun,  jadi cobalah untuk belajar. Karena hidup ini bukan sekedarnya hidup, tapi hidup ini tentang belajar. Belajar sabar walau terbebani, belajar memaafkan, walau pernah di sakiti, belajar ikhlas meski belum rela, belajar memahami meski tidak sejalan, belajar menghargai meski pernah di khianati, belajar merasa cukup meski tidak pernah puas, belajar untuk memberi, meski kita hanya mendapatkan sedikit, belajar setia meskipun banyak godaan, belajar mengerti meski tak pernah sejalan, belajar peduli meski mereka tak pernah peka. Jika dalam permaian hidup ini kita selalu mementingkan ego diri sendiri, maka jangan pernah berharap orang lain menghargai kita. 


Hidup itu untuk belajar, bukan belajar untuk hidup. 


Tasikmalaya, Februari 2018
Tika Marwati

Post a Comment for "Hidup Itu Belajar"