Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Rindu yang Tak Pernah Usai



# Kala itu aku duduk di kursi barisan depan tepat sekali berhadapan dengan meja dosen
Rasanya ingin beranjak, berpindah dari kursi panas ini
Mondar mandir, kesana kemari, masuk keluar
Yang di bicarakan hanya fenomena adalah.


Kau tahu ?
Tubuhku memang di sini, namun pikiranku di sana
Entahlah, kamu membiarkan aku bermain dalam kerinduan
Ku coba fokuskan diri, mengambil selembar kertas dan pulpen
Menulis apa yang di katakannya tentang sebuah fenomena
Namun tetap saja, fokusku hanya tentang rindu.
Aku tak menyalahkan siapapun tentang rindu yang datang tidak tepat pada waktunya, termasuk kamu
Hanya saja, rindu ini tak pernah usai
Jika saja aku tak pernah berbohong tentang rindu ini kepadamu
Mungkin semua akan baik baik saja



# masih tentang rindu
Aku paling suka, jika harus menyembunyikan si rindu, meski terkadang memang sangat menyakitkan, rasanya ingin sekali aku meremukan hati hingga debu.

Kerinduan, selalu mencekam, selalu mencakar, selalu binal menari dalam relung hati, selalu menggetarkan jiwaku, selalu melemaskan semua kerja otakku, bahkan selalu menjerit hingga suara putus, inikah rindu? Iya rindu, yang menjadikan aku untuk belajar segala hal. 

Maafkan atas semua kebohonganku, yang sudah lama aku simpan dalam jeruji hati paling ujung, lalu aku tutup rapat rapat dengan kebohongan. Kau tau ? aku tidak hanya membohongimu, tapi aku membohongi diriku sendiri. Sebelumnya aku minta maaf , karena lisanku selalu ku cegah untuk berkata jujur, setiap kali kamu menanyakan tentang kerinduanku, aku selalu menjawab tidak, padahal iya aku rindu. Kau tau lah wanita adalah mahluk dengan lebih dari sejuta makna, iya bisa jadi ngga, ngga bisa jadi iya. 

Sebenarnya, aku ingin mengatakan hal ini dari saat aku merasakan rindu, namun aku memilih untuk mengurungnya, sekarang aku jujur. Aku merindukanmu sejak Jumat 12 Januari 2018, hari ini baru bisa aku katakan, karena aku tidak kuat menahannya terlalu lama. Jika menurut Dilan rindu itu berat, menurutku rindu itu ringan, yang berat ketika aku tidak bisa bertemu denganmu di saat aku di landa kerinduan. Meski satu detik tadi, aku bertemu denganmu. Rasanya masih saja selalu rindu. Rindu tak pernah usai.

By : Tika Marwati


Post a Comment for "Rindu yang Tak Pernah Usai"