Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Cerita Akhir Januari



Bertemu dengan tanggal paling bersejarah setelah tanggal kelahiranku, 31. Iya tanggal tiga puluh satu, menjadi saksi hubungan kita di mulai, namun entah kenapa penghujung tanggal itu sepertinya tidak bersahabat dengan januari. Ingin rasanya aku ungkapakan perasaan yang selalu mengebu gebu dalam hatiku, lagi dan lagi aku tak mampu. Cukup aku, dan biarkan aku yang mengerti

Kesibukanmu, membuatku berpikir bahwa aku tak perlu menunggu kamu bahkan berharap untuk membalas pesan singkat dariku dengan waktu cepat, yang seharusnya aku lakukan adalah mengerti. Aku seorang wanita biasa, kamu selalu bilang kalau aku keras kepala, tapi perlu kau tahu, sebenarnya aku juga lembut.

Aku ingin sekali menanyakan tentang kita, khususnya tentang aku. Aku bagimu siapa ? teman ? orang asing ? atau siapa ? mengapa kamu tidak pernah terbuka?.
Aku kekasihmu kan?, namun sikapmu yang selalu seperti itu terkadang membuatku sakit, tapi aku memilih untuk mengerti dan menjalani. Menyesali takdir tuhan itu tidak baik, apalagi menyesali pertemuan kita. Aku bahagia ko bersamamu, hanya saja, aku yang belum begitu memahami dirimu.

Aku tak mungkin meninggalkanmu, karena aku terlalu mencintaimu, aku lebih memilih menetap denganmu bersama luka daripada aku harus berjalan menuju orang lain.

Pahamilah, wanita itu mudah sekali memaafkan tapi terkadang sulit untuk melupakan. Aku sudah terlanjur bergelut dengan duniamu, aku sudah tenggelam dalam hatimu, sudah sudah sudah semuanya sudah bersamamu.

Siang tadi aku bertemu denganmu, hanya untuk memberikan titipan paket, tanpa ada lagi bahasa apapun kau sampaikan kepadaku, begitupun denganku. Aku asyik dengan temanku ngobrol, dan kamu asyik dengan temanmu membicarakan aplikasi laptop yang rusak. Aku tau, kau tak akan banyak berbicara denganku di saat suasana ramai seperti ini.   
        
Sekitar 5 menit kamu berdiri di depanku, sebenarnya aku ingin kamu duduk di sampingku meski hanya 1 menit saja, kamu ngobrol denganku meski dengan 1 menit itu, namun aku tau kamu harus mengantarkan titipan paket tadi ke rumah dosen.

 Setelah 5 menit kamu berdiri di depanku tiba tiba kamu meninggalkanku, entah ada bahasa atau tidak, yang jelas ketika itu aku terluka, ingin sekali aku mengobatinya, tapi aku tak tau obat apa yang harus ku gunakan. Cuaca mendung. Pikirku “apa dalam benakmu tak pernah terlintas tentang diriku ? apa kamu tak pernah khawatir denganku ? mengapa kamu tak pernah menanyakan aku pulang bersama siapa, atau apalah,  sudahlah karena selalu begitu. 

Tak perlu basa basi, aku bersama temanku tadi, berjalan menuju kostan teman untuk melaksanakan sholat ashar, tiba tiba sekitar pukul 16.00 WIB langit menumpahkan air dengan begitu deras, seolah mengetahui hatiku yang terluka, ternyata langit lebih peka dari pada dirimu. Karena temanku akan pergi entah dengan siapa sore ini, berarti akupun harus pergi untuk pulang karena tempat kostnya sepi, tidak ada mahluk yang berlalu lalang, aku takut, akhirnya aku lebih memilih untuk berjalan menuju pulang bersama hujan.

 Aku sengaja sore tadi tidak memesan go-car ataupun gojek, karena aku ingin menikmati sedihku bersama hujan yang begitu derasnya, entah berapa meter jarak dari kostan menuju tempat bertemunya aku dengan angkutan umum yang biasa mengantarkanku, yang jelas di sepanjang perjalanan aku tak henti hentinya menangis. Aku bersyukur bisa menikmati hujan hari ini, aku melewati pohon besar yang menatapku begitu tajam, melewati pedagang gorengan dan pedagang lumpia basah yang menawarkan jualannya kepadaku, setalah aku melewati pedagang itu ,aku melewati sekumpulan abang becak yang menawarkan becaknya untukku, karena saat itu hujan begitu deras, dan aku tak begitu jelas mendengar tawaran mereka, sehingga aku tak menghiraukan, aku terus saja berjalan bersama air mata dan hujan. 

Tibalah di tempat bertemunya aku bersama angkot 03 yang mengantarkan pulang menuju rumahku di daerah Kawalu, ketika aku memasuki angkot dan duduk di samping pemuda dengan menggunakan almamater berwarna kuning, semua mata penumpang tertuju padaku, aku heran mengapa mereka menatapku dengan begitu aneh, tapi kala itu aku tak peduli dengan mereka. Yang ada dalam pikiranku hanyalah kamu. 

Buang buang waktu jika aku memikirkan mereka. Tapi aku tidak merasakan kenyamanan di sini, rasanya aku lebih suka bersama hujan tadi, daripada bersama mereka yang menatapku dengan keanehan, ada apa sih? Apa yang salah denganku ? akhirnya setelah tiba di gang yang menuju rumahku, aku berhenti dan turun dari angkot itu, aku baru sadar setelah aku menyebrang jalan, bahkan baru terpikirkan, sekarang aku mengerti kenapa mereka menatapku dengan penuh keanehan, bajuku basah kuyup padahal di tanganku tersimpan payung,  namun tak aku gunakan, mungkin pikiran mereka menganggap  “bodoh banget sih aku malah memilih berjalan bersama hujan” tapi biarlah, yang lalu akan selamanya menjadi kenangan, tak kan bisa aku kembali ke waktu tadi.  

Di sepanjang jalan gang rumahku, aku mikir dengan keras, sekeras kerasnya, jika aku pulang dengan keadaan basah seperti ini, pasti mamah mengkhawatirkanku, bahkan akan sampai memarahiku, aku bingung alasan apa yang harus aku katakan? Ngga jelas, ngga bisa mikir. Yaudah setalah depan rumah mungkin akan ada inspirasi untuk alasan kenapa bajuku basah seperti ini.

Singkat cerita, tibalah aku di rumah, mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, tiba tiba mamah menjawab salamku dan membukakan pintunya, belum juga aku melangkah kaki untuk masuk ke rumah, terlebih dahulu mulut mamah berbicara sana sini, marah marah karena khawatir denganku, yang hari ini aku sedang melaksanakan puasa. Aku menjawab pertanyaan mamah yang begitu panjang hanya dengan kalimat sederhana, iya aku tadi pulang bersama teman naik motor. 

Setelah itu mamah menyuruhku untuk ganti baju, dan melarangku mandi. Padahal aku harus mandi, soalnya kepalaku terkena air hujan, dan itu membuat aku pusing, tapi aku selalu memilih biarkan aku, cukuplah aku yang merasakan, aku baik baik saja. Setalah itu adzan berkumandang, Alhamdulillah, syukur ku ucap atas segala kesempatan hari ini. aku makan dengan seadanya yang ada di meja makan. 

Aku masih menunggu kabarmu, namun kamu masih saja tak membalas chatku, aku tak mengerti kenapa kamu marah ? karena kamu selalu seperti ini , tak pernah mau untuk berbicara, tak pernah mau untuk terbuka, sudahlah logikaku sudah tak terkondisikan, akalku sudah berpikir jauh di luar batas kemampuannya. Aku pusing. Menangis lagi. Udah ah stop.

Berulang kali aku memberi pesan singkat kepadamu, namun kamu hanya membacanya saja, aku menanyakan kamu kenapa ? “ jawaban yang begitu singkat dan selalu seperti itu” kamu selalu mengatakan ngga , padahal aku tahu kamu ada apa apa, bagaimana bisa aku memahami ketika kamu tak pernah mau untuk terbuka kepadaku. 

Aku baru ingat, temanku tadi bilang. “Dia pasti marah padamu tik, soalnya kamu dekat denganku tadi” tapi masa iya sih dia marah sampai segitunya ?tak sedikitpun dia untuk mau berbicara, bingung dan masih bingung kamu kenapa ?

Jika iya kamu cemburu, kamu bicara sama aku, jangan diam seperti ini, kamu membuat aku bingung dan sedih saja, kamu boleh marah, tapi marah yang jelas bukan marah seperti ini. sebelumnya, apa kamu tak pernah sadar, luka aku lebih dalam dari apa yang kamu rasakan, bisa kamu bayangkan saat kamu bilang akan mengantar temanmu ke salah satu toko kacamata, iya aku tau itu hanya temanmu, aku cemburu sangat cemburu, tapi tak mungkin aku marah padamu, karena aku sudah percaya padamu sepenuhnya, kau juga harus tahu, hatiku terluka,namun tak ku katakan. Lalu selama ini apa kamu pernah peduli, dengan siapa aku pulang, tidak bukan? Kamu membiarkan aku pulang sendiri. Bahkan terkadang ketika aku memintamu untuk mengantarku ke suatu tempat, kamu selalu ada alasan untuk menolaknya, hal itu yang membuat aku tak berani memintamu untuk mengantarku kemana mana.

 Seperti di sayat daging sampai mengering, hati ku sakit, saat kamu melakukan pembelaan tentang wanita yang dulu pernah tersimpan dalam hatimu,  aku tak mampu berucap apa apa, aku lebih memilih menutup mata dan menutup telinga, agar rasa sakit itu tak membelenggu dalam hatiku. 

Aku sayang sama kamu, makanya aku selalu merasa berdosa, jika kamu marah padaku. Aku mohon katakan padaku, apa yang terjadi dengamu ?
Kau tau sampai malam ini aku masih menunggu kabarmu. Aku tidak mau kamu mengabariku di februari. Karena cerita ini cukuplah sampai januari .

By : Tika Marwati

Post a Comment for "Cerita Akhir Januari"